Jurus Penutup Paslon Penguasa Betawi

detik.com

DEBAT publik ketiga atau terakhir Pilkada DKI Jakarta, yang diikuti tiga pasangan calon (paslon), Jumat malam (10/2) berlangsung cukup seru, diisi saling kritisi terhadap program lawan, walau masih muncul serangan terhadap pribadi antara satu calon dan lainnya.

Seperti dua debat sebelumnya, paslon No. urut 1 Agus Harimurti – Sylviana Murni dan pasangan nomor urut 3 Anies Baswedan – Sandiaga Uno yang sama-sama pendatang baru terkesan berada di satu front menghadapi pasangan petahana dengan nomor urut 2, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dan Djarot Saiful.

Agus yang memperoleh kesempatan pertama langsung menggebrak dengan mengangkat potret buram kota Jakarta, seperti kondisi gizi buruk yang dialami warga, bahkan di bawah capaian propinsi Papua Barat.
”Setiap 2,5 jam ada perempuan yang mengalami kekerasan. Minim fasilitas terhadap para kaum difabel, sementara setengah juta warganya mengosumsi narkoba, “ ujarnya.

Anies juga menilai, Jakarta adalah ibukota negara yang tidak ramah bagi para perempuan dan lansia, anak-anak dan kaum difabel, dan hanya ramah terhadap narkoba.

“Jika terpilih, kami akan balik keadaanya menjadi kota yang ramah bagi perempuan, lansia, anak-anak dan kaum difabel, tetapi tidak ramah bagi peredaran narkoba, “ ujarnya.

Sementara Ahok menangkis kritikan kedua paslon lain dengan menyebutkan data dan fakta mengenai capaian kinerjanya selama lima tahun lalu dan berjanji akan terus meningkatkan dan menyempurnakan yang belum dicapai pada kepemimpinan lima tahun ke depan jika terpilih nanti.

Buktinya, lanjut Ahok, pihaknya telah menciptakan 188 Ruang Publik Terbuka Ramah Anak (RPTRA) yang dapat dimanfaatkan oleh warga untuk beraktivitas. Kartu sehat dan kartu pintar disiapkan bagi warga miskin, bahkan beasiswa untuk kuliah di perguruan tinggi pemerintah senilai Rp18 juta tiap orang.

Fasilitas bagi Difabel

Bagi kaum difabel, menurut Ahok, disediakan layanan Transjakarta Care berupa angkutan gratis di dalam kota pemesanan sehari sebelumnya. Toilet-toilet umum yang didisain khusus dan lapangan kerja juga disiapkan bagi kaum difabel.

Saat ini, lanjut Ahok, pemda DKI menyediakan satu persen lapangan kerja bagi kaum difabel, dan selanjutnya akan ditingkatkan lagi menjadi dua persen.

“Anda selama ini kemana saja?, “ sindir Ahok saat Syliviana yang sebelumnya menjabat walikota Jakarta Pusat di bawah kepemimpinan Ahok menyebutkan kurangnya perhatian Pemda DKI Jakarta pada kaum difabel.

Ahok juga menyebutkan, ia disukai banyak ibu-ibu. Buktinya, banyak yang meminta dia berpose dengan mereka di depan kamera. “Isteri saya juga sudah kabur, kalau saya kasar padanya, “ kilah Ahok untuk meyakinkan bahwa perilaku kasar pada perempuan yang distigmakan lawan-lawannya adalah penilaian keliru.

Sebaliknya Ahok menganggap janji kampanye paslon nomor urut 3 untuk membangunkan rumah bagi sepertiga penduduk Jakarta yang belum memilikinya tidak realistis.

“Siapa saja yang bisa mendapatkannya, berapa ukurannya, dimana akan dibangun, bagaimana cara pembayarannya? “ tanya Ahok seraya menambahkan, kredit perbankan juga ada aturannya, misalnya paling lama 15 tahun.

Namun Anies meyakini, program pengadaan rumah warga melalui kerjasama pengaturan skim pembayaran dengan perbankan agar terjangkau bagi warga, misalnya dengan mencicil uang muka selama enam bulan dan memperpanjang jangka waktu pengembalian kredit, cukup realistis.

Sementara Agus dengan nada kesal menimpali, program pembangunan rumah apung bagi warga penghuni bantaran kali yang dicanangkannya terkesan sudah berulang-ulang ditanyakan oleh paslon nomor urut 1.

“Program rumah apung bukan unggulan kami. Intinya kami ingin merelokasi hunian warga di bantaran kali ke bangunan vertikal (rumah susun) yang letaknya tidak jauh dari hunian terdahulu agar warga tidak tercerabut dengan komunitas dan budaya asalnya.

Sindiran Agus bahwa Jakarta memerlukan pemimpin arif yang bisa mengayomi dan mengedukasi warga, juga pernyataan Sylvi yang meragukan Ahok, khususnya dalam menangani aksi-aksi kekerasan pada perempuan, mengingat di depan publik ia pernah berlaku kasar pada perempuan, ditepis langsung oleh Ahok.

Menurut Ahok, ia disukai banyak ibu-ibu. Buktinya, banyak yang meminta dia berpose dengan mereka di depan kamera. “Isteri saya juga sudah kabur, kalau saya kasar padanya, “ kilah Ahok untuk meyakinkan bahwa perilaku kasar pada perempuan yang distigmakan lawan-lawannya adalah penilaian keliru.

Djarot menimpali, tindakan tegas perlu dilakukan seperti misalnya pada koruptor , karyawan pemprov DKI Jakarta yang malas atau tidak amanah dan juga pada warga yang melawan hukum setelah berkali-kali diingatkan.

Cawagub paslon nomor urut 2 itu juga mencela Agus dan Sylvi yang berusaha mengambil hati warga dengan membela mereka yang mengokupasi kawasan bantaran kali, padahal itu jelas-jelas melanggar hukum.

“Sampaikan program, bukan dengan menyebar fitnah atau merusak tatanan yang hendak dibangun dengan mengiming-imingi warga untuk melawan hukum, hanya karena (kalian-red) ingin jadi gubernur, “ sindirnya.

Program paslon

Paslon nomor urut 1 menawarkan pembangunan sarana dan parsarana bagi kaum difabel, pengembangan industri rumah atau Usaha Kecil dan Menengah (UMKM) dan menutup tempat-tempat hiburan yang dijadikan kegiatan transaksi narkoba tanpa pandang bulu.

Sedangkan paslon nomor urut 2 menjanjikan lebih banyak pembangunan RPTRA, perbaikan kesehatan dan transportasi publik, bebas pembayaran PBB untuk rumah di bawah nilai Rp 1 milyar dan sistem layanan terpadu.

Pasangan nomor 3 mengajak kaum perempuan untuk terlibat penyusunan kebijakan terkait pemberdayaan kaum mereka, melaksanakan program Ok Oce, pembangunan 44 pusat pertumbuhan dan kegiatan wirausaha.

Berdasarkan hasil survei Litbang Kompas, dari sisi parameter penguasaan masalah, program kerja dan cara berkomunikasi selama debat ketiga, paslon nomor urut 1 meraih nilai 6,36, paslon nomor urut 2, dengan nilai 7,68 dan paslon nomor urut 3 dengan nilai 7,37.

Dari sisi elektabilitas, Paslon nomor urut 2 tercatat masih unggul dengan 36,2 persen suara, paslon nomor urut 1 dengan 28,2 persen dan paslon nomor urut 3 meraih 28,5 persen.

Ketiga paslon masih berpeluang memperebutkan 28,7 persen calon pemilih yang masih bisa beralih (swing voters) dan 7,1 persen pemilih yang masih ragu-ragu atas pilihannya (undecided voters).

Semoga pilkada serentak yang diikuti 101 daerah, Rabu, 15 Februari, berlangsung dengan aman, fair dan adil serta bebas dari kecurangan khususnya iming-iming money politics sehingga melahirkan pemimpin yang amanah, jujur dan adil juga.

Advertisement