JAKARTA – Cucuran keringat membasahi dahi Utan (74).Raut wajahnya serius menatap gelondongan kayu yang ada dihadapannya. Tangannya yang mulai mengeriput kembali terlihat perkasa ketika kapak ia ayunkan. Kayu pun terbelah menjadi gelondongan kecil.
Sulitnya mencari pekerjaan di desa membuat Utan terpaksa menjadi tukang kayu bakar. Penghasilannya pun dalam sehari tak seberapa, paling besar hanya Rp 10 ribu. Memang tak banyak namun Utan tetap bersyukur dan mengembangkan senyum.
Tak jarang juga jika kayu tak terjual kakekyang tinggal di Gunung Guruh, Kebon Manggu, Sukabumi, Jawa Barat itu membarter kayunya dengan setandan pisang.
Menurut Riri Riyanti seorang netizen yang membagikan cerita Utan ke group Kuliner Kasih menuturkan, kesehariannya Utan hidup sebatang kara. Ia memiliki satu anak perempuan namun tinggal terpisah sedangkan sang istri telah lama meninggal dunia.
“Kakek sengaja tukarkan kayu dengan pisang katanya yang beli tidak punya uang. Jadi menurutnya kalau di rumah tidak ada apa-apa Kakek bisa rebus pisang,” tulis Riri dalam postingannya.
Setiap berjualan tak jarang Utan mengeluhkan sakit kepala akibat kurang darah.Guna menyembuhkan keluhannya Utan hanya mengandalkan KIS dan berobat ke puskesmas, namun hal tersebut belum banyak membuahkan hasil.
“Keinginan Kakek Utan mau punya modal supaya dapat beli stok kayu,” jelas Riri





