Kaki Disemen, Petani Kendeng Rela Sakit Sebentar daripada Sakit Selamanya

Tim Medis LKC Dompet Dhuafa periksa kesehatan para Petani Rembang yang lakukan aksi semen kaki. Foto: Ist

JAKARTA – Petani yang berasal dari kawasan Gunung Kendeng Jawa Tengah, atau yang dikenal sebagai petani Kendeng yang  menyemen kaki dan duduk di seberang Istana Merdeka mengaku lebih baik sakit sementara daripada sakit selamanya.

Aksi tersebut digelar sebelas petani  Kendeng mulai Senin (13/3/2017) untuk menolak pendirian pabrik semen di gunung tersebut, an ddilakukan dengan cara duduk di kursi, tepat di seberang Istana Merdeka, menghadap ke kantor Presiden Joko Widodo.

Sukinah  (41), salah satu petani yang menggarap lahan keluarga mengaku terpaksa meninggalkan pekerjaannya sebagai seorang petani.

Menurutnya, resiko tersebut harus diambil mengingat dampak yang bisa dihasilkan dari pendirian pabrik Semen.

“Kita itu petani, butuh air, butuh makan. Kalau tidak ada air, kita mau gimana. Masa kita di Indonesia yang subur itu, harus menanam di gelas seperti di luar negeri, aneh toh,” ujarnya, seperti dilansir Tribunnews, Rabu (15/3/2017),

Sementara itu Suparmi, petani Kendeng yang ikut menyemen kakinya, mengakui bahwa aksi menyemen kaki tidak lah mudah.

Belenggu di kakinya itu membuat pergerakan petani asal Rembang, Jawa Tengah itu terganggu. Bahkan ia harus meminta tolong sejumlah oranng untuk menggotongnya ke kamar mandi, hanya untuk buang air.

“Tapi ya lebih baik begini, lebih baik sakit sebentar, dari pada sakit selamanya,” tutur Suparmi.

“Ibu bumi sudah memberi kita semuanya, sekarang ibu bumi justru disakiti. Jangan sampai ibu bumi yang mengadili kita nanti karena disakiti,” katanya.

April tahun lalu Sukinah dan kawan-kawannya sempat menggelar aksi serupa. Aksinya itu berhasil, setelah Presiden RI. Joko Widodo mengeluarkan kebijakan untuk mencabut izin pendirian pabrik semen.

Setelah izin tersebut dicabut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang dipimpin Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo kembali mengeluarkan izin tersebut. Hal itu memaksa para petani Kendeng untuk kembali turun ke jalan, meninggalkan sawah mereka.

Advertisement