BERTEMPAT di halaman Istana Merdeka, Presiden Jokowi Jumat malam 28 Oktober menggelar pentas seni dan budaya bertajuk “Nusantara Berdendang”. Presiden berharap, memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-88 dengan cara seperti itu bisa memupuk semangat pluralisme dan kebhinekaan bagi bangsa Indonesia, khususnya para kawula muda dari Sabang hingga Merauke.
Jokowi-JK dan juga Megawati, ada di tengah-tengah pagelaran itu. Bersama rakyat menyaksikan berbagai pertunjukan yang mewakili wilayah budaya Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua. Rakyat pun mengaplausnya, karena untuk sekian kalinya Jokowi menjadikan Istana Merdeka akrab dengan rakyat. Seusai pagelaran Presiden Jokowi foto bersama dengan para pengisi acara.
Presiden Sukarno dari tahun 1950 hingga tahun 1966 juga membuka pintu Istana Negara –di Jalan Segara (kini Veteran)– untuk bisa bertemu dengan rakyatnya. Ini sebulan sekali dilaksanakan, lewat pagelaran wayang kulit dengan dalang-dalang top di jamannya. Ada Ki Gondomargono (Yogyakarta), Ki Gitosewaka (Blitar), Ki Narto Sabdho (Semarang) dan Ki Panut Darmoko (Nganjuk). Dari semua dalang itu yang paling digemari Ki Gitosewoko, sehingga diberikan kamar khusus di Istana.
Bung Karno ditemani sejumlah menteri dan masyarakat penggemar wayang kulit menyaksikan bersama. Presiden paling betah nonton, dari pukul 20.00 hingga tancep kayon (selesai) pukul 05.00 pagi. Hidangan malam sebagai cagak lek (pencegah kantuk) berupa nasi rawon yang pedes-pedes kemepyar itu. Hari berikutnya menteri atau ajudan yang sempat nonton bersamanya pasti “diuji”, bagaimana jalan cerita yang dibawakan kidalang. Ajudan HR Sugandhi pernah ditanya, jawabnya hanya “sae Pak” (bagus pak) melulu, karena ternyata dia tidak nonton.
Bung Karno juga sangat “jengkel” dengan Menteri Penerangan Ruslan Abdulgani, sebagai arek Surabaya kok tidak senang nonton dan tak ngerti wayang. Pernah seseorang membantahnya, memangnya itu salah? Jawab Pemimpin Besar Revolusi itu, “Ya tidak salah, tapi sebagai pejabat tak mengerti filosofi wayang bisa salah dia mengambil keputusan.”
Tradisi wayangan di Istana Negara itu terhenti bersamaan dengan pudarnya kekuasaan Bung Karno di tahun 1967. Sejak itu tak ada lagi pertunjukan wayang kulit di Istana Negara, baik yang di Jakarta maupun Bogor. Presiden Soeharto, BJ Habibie, Gus Dur, Megawati, tak pernah meneruskan. SBY pun tak juga bilang: lanjutkan! Meski 10 tahun berkuasa, beliau baru sekali nanggap wayang di Istana.
Bagaimana dengan Presiden Jokowi? Sudah dua tahun memerintah, belum pernah sekalipun. Ada memang sejumlah budayawan dan pelawak diajak makan bersama di Istana, tapi dari mereka tak satupun yang berprofesi dalang, apa lagi mendalang. Maklum, meski Jokowi lahir di pusat budaya Jawa di Solo, tapi dari kecil dia memang lebih gemar musik Barat breng gedumbreng yang memekakkan telinga.
Bung Karno punya Nawaksara, Jokowi punya Nawacita. Jokowi juga pernah mengklaim, sebagai penerus semangat Trisakti-nya Presiden Sukarno. Mewujudkan “berkepribadian dalam budaya”, lewat “Nusantara Berdendang” di Istana Merdeka itu sudah bagus. Tapi alangkah bagusnya lagi, bilamana sekali-sekali Jokowi juga menggelar pertunjukan wayang kulit semalam suntuk di Istana seperti Bung Karno dulu.
Bung Karno yang sangat akrab dengan wayang kulit, dalam pidato dan percakapan sehari-hari tak lepas dengan ungkapan pakeliran seperti: kopat-kapita kaya ula tapak angin, rawe-rawe rantas malang-malang putung, dan lain-lainnya. Tapi Pak Jokowi yang tidak menyukai wayang, celetukan kesehariannya hanyalah: aku ora mikir, aku ora papa!





