BOGOR (KBK)– Kesenian musik Karinding yang berasal dari Jawa Barat saat ini hampir punah. Tak banyak orang yang tahu dengan kesenian ini. Bahkan, ketika tim KBK menyambangi komunitas Kis Tapak, Bogor (21/2/2016), yang sedang mementaskan alat musik karinding di pinggir jalan, tak jarang orang-orang Jawa Barat sendiri bertanya-tanya apa yang sedang komunitas itu lakukan.
Ari Jin Jin, salah satu Pembina Komunitas Kis Tapak Kesenian Karinding mengatakan, baru beberapa tahun ini saja banyak komunitas yang giat melestarikan kesenian yang berumur ratusan tahun tersebut. Dirinya sangat menyayangkan anak-anak muda sebagai penerus generasi saat ini, justru lebih tertarik dengan budaya luar ketimbang budaya yang berasal dari negeri sendiri.
“Cukup sulit menyadarkan mereka tentang kebudayaan sendiri, saat ini anak muda lebih tertarik dengan budaya yang berasal dari luar. Padahal sangat disayangkan jika kebudayaan kolot (asli) dari Sunda itu hilang, apalagi kalau diambil oleh negara lain,” pungkasnya.
Dikatakan Ari, perhatian dari pemerintah akan kelestarian Karinding masih kurang. Untuk saat ini, lanjut Ari, tidak ada fasilitas dan wadah dari pemerintah untuk mendukung kelestarian karinding sendiri.
“Saya tidak berharap banyak kepada pemerintah. Karena komunitas ini sudah jalan bertahun-tahun namun hingga sekarang tidak ada dukungan dari pemerintah. Panggilan jiwa sebagai urang Sunda lah yang membuat kami tetap berjuang melestarikan Karinding” kata Ari.
Menurut Ari, cara paling efektif memperkenalkan kepada masyarakat adalah dengan cara pentas di pinggir-pinggir jalan. Selain dapat melihat langsung alat musik karinding, masyarakat juga dapat berinteraksi dan berdikusi dengan komunitas ini.
Komunitas Kis Tapak sendiri setiap hari minggu memanfaatkan car free day untuk menggelar pentas jalanan di lapangan Sempur, Bogor. Kesempatan itu mereka gunakan untuk mendekatkan kembali kesenian musik Karinding kepada masyarakat sekaligus menghimpun dana untuk uang kas dengan cara menjual Karinding dengan harga Rp30 ribu.
“Dengan cara seperti ini, Alhamdulillah antusias masyarakat sangat besar. Dan sekarang perlahan mulai banyak warga yang tahu tentang Karinding. Saya berharap ke depannya masyarakat terutama anak muda dapat lebih mencintai budaya sendiri ketimbang budaya yang datang dari luar,” tutur Ari.
Cara memainkan Karinding sangat mudah, hanya dengan meletakan di mulut, lalu kemudian dipukul hingga mengeluarkan suara. Biasanya Karinding diiringi beberapa alat musik lain yang juga terbuat dari bambu (Awi) seperti Gongti dengan cara ditiup dan juga Celempung dengan cara dipukul menggunakan tongkat kecil yang juga terbuat dari bambu.





