Kasus Khashoggi Dinilai Bisa Tekan Saudi untuk Hentikan Serangan di Yaman

Konflik Yaman yang sudah berlangsung tiga tahun sejak 26 Maret 2015 dan menewaskan 10.000 orang, yang diuntungkan hanya pedgang senjata, korbannya rakyat jelata.

NEW YORK – Diplomat-diplomat Barat yakin pasukan yang dipimpin Arab Saudi dan pemberontak Houthi yang didukung Iran di Yaman akan menyetujui permintaan Amerika untuk memberlakukan gencatan senjata.

Amerika pada Selasa mengusulkan  gencatan senjata di Yaman, yang didukung Inggris dan Prancis, untuk  mengakhiri perang yang telah menyebabkan lebih dari 10 ribu orang tewas akibat pertempuran dan lebih dari 50 ribu orang meninggal akibat kelaparan.

Badan-badan PBB dan organisasi bantuan swasta memperkirakan 14 juta warga Yaman berada di ambang kelaparan dengan sekitar 130 anak meninggal setiap hari akibat kekurangan gizi.

Diplomat-diplomat Barat mengakui kemungkinan terobosan itu didorong kematian wartawan Arab Saudi Jamal Khashoggi yang bekerja untuk harian the Washington Post.

Mereka mengatakan, kematian Khashoggi memberi mereka kesempatan lebih besar untuk mendorong lebih keras diakhirinya konflik itu.

Menteri Luar Negeri Inggris Jeremy Hunt mengatakan pada BBC, kematian Khashoggi membantu Amerika dan menekan Arab Saudi. Menurutnya, terlalu dini untuk bersikap optimistis, tetapi “kini ada peluang.”

Imbauan Amerika untuk gencatan senjata disampaikan hanya sehari setelah koalisi militer pimpinan Arab Saudi mengatakan sedang menyiapkan serangan baru terhadap Hodeida “dalam beberapa hari” dan telah mengerahkan lebih dari 10 ribu tentara baru menuju kota itu untuk serangan baru tersebut.

Diplomat-diplomat mengatakan mereka kini merasakan bahwa Putra Mahkota Mohammed bin Salman, yang selama ini memerintahkan upaya militer Arab Saudi di Yaman, mungkin bersedia mengakhiri intervensi negaranya sebagai salah satu cara merehabilitasi diri pasca pembunuhan Khashoggi.

Advertisement