Kecewa Jokowi ke China

Pengojek payung yang sebenarnya. Jangankan dapat Rp 1 triliun, diberi Rp 50.000,- saja girang sekali.

AWALNYA Presiden Jokowi bergembira karena raja Salman mau berinvestasi di Indonesia sebesar Rp 89 triliun. Tapi ketika raja Arab itu mampir ke China dan berinvestasi besar-besaran sebanyak Rp 870 triliun, Presiden menjadi sedikit kecewa. Bagaimana tidak kecewa, sudah dibela-belain memayungi sendiri raja Salman saat kehujanan di Istana Bogor tempo hari, kok investasinya hanya sedikit. Tak usahlah galau, karena presiden RI bukanlah pengojek payung!

Sepertinya di negara kita ini laju pertumbuhan ekonomi dan laju pertumbuhan korupsi berbanding lurus. Ketika kesempatan kerja makin banyak, kesempatan jadi koruptor juga semakin lebar. Lihat saja para wakil rakyat kita di Senayan.Dalam kasus korupsi e-KTP, banyak yang diduga terlibat pemakanan uang haram. Jangankan anggota biasa, yang Ketua DPR saja sekarang sudah dicekal, dilarang pergi ke luar negeri.

Di masa Orde Baru pertumbuhan ekonomi RI pernah mencapai 7 % (1997). Tapi setelah era reformasi sekarang, Presiden Jokowi mematok ke angka 6 % saja masih terseok-seok realisasinya. Pertumbuhan ekonomi memang bisa digenjot ketika investasi semakin tinggi. Sebab lewat investasi tersebut roda perekonomian bisa digerakkan. Ketika banyak usaha baru bertumbuhan, kesempatan kerja juga semakin lebar, sehingga pendapatan perkapita setiap keluarga bisa meningkat.

Tapi yang meningkat sekarang, justru pendapatan perkapita para praktisi korupsi, baik yang kecil-kecilan maupun besar-besaran. Yang kecil-kecilan beroperasi di kalangan administrasi perijinan, yang besar-besar di lingkungan penentu kebijakan. Pendek kata, semuanya cari kesempatan korupsi sesuai kapasitas masing-masing.

Untuk meningkatkan investasi, setiap keluar negeri Presiden Jokowi tak pernah bosan “jualan” tentang negaranya. Beliau berpromosi bahwa Indonesia negara paling layak untuk berinvestasi. Maka ketika raja Salman dari Arab Saudi berkenan berkunjung ke Indonesia, Presiden Jokowi pun menyambut dengan gegap gempita. Dalam hati Presiden Jokowi berkata, “Jemaah haji ane menjadi sumber devisa bagi negara ente, maka gantian ente berinvestasi yang banyak buat ane.”

Begitu besar harapannya, maka ketika raja Salman kehujanan di Istana Bogor tempo hari, Presiden Jokowi tanpa sungkan memayungi sendiri raja yang sepuh itu. Sesuatu yang rasanya takkan dilakukan oleh presiden yang lain, karena dia beranggapan, “Memangnya gue pengojek payung?” Tapi demi kepentingan bangsa, Presiden Jokowi rela melakukannya.

Tiga belas hari di Indonesia, raja Salman meninggalkan kesan manis bagi bangsa Indonesia. Raja Salman-Jokowi pun teken ini itu, persetujuan dan kesepakatan berinvestasi. Kala itu raja Arab siap tanam modal di Indonesia Rp 89 triliun dan Presiden Jokowi pun bergembira. Tapi ketika raja Salman mampir ke China, di sana sang raja berinvestasi sampai Rp 870 triliun. Presiden Jokowi pun sedikit kecewa. Kemarin sempat nggresula di Bandung, “Sudah takpayungi sendiri, ternyata investisinya cuma sedikit, ya sedikit kecewa.” Ora papa lah, kan Presiden RI bukan pengojek payung.

Tapi menurut Direktur Eksekutif Institute For Development of Economics and Finance (Indef), Enny Sri Hartati, sudah menjadi karakter negara-negara di Timur Tengah, untuk berinvestasi harus berhati-hati sekali. Di China Arab mau begitu besar tanam modal, karena di sana infrastruktur sudah lengkap, sehingga tak perlu repot. Sedangkan di sini, justru investor harus siap pula menyiapkan infrastrukturnya.

Ada sejumlah hal yang menjadikan banyak negara asing “trauma” berinvestasi  di Indonesia. Di samping buruhnya tiap tahun demo tuntut UMP (Upah Minimum Provinsi), prosedur investasi sangat berbelit-belit, jika mau lancar harus pakai duit. Banyak sekali Perda yang membatasi gerak investor. Jokowi pun mencabut 3.000 Perda penghambat investasi itu. Sayangnya para Kepala Daerah justru menggugat ke MK dan dimenangkannya. Meski masygul, Jokowi hanya bisa bilang: aku ra papa. (Cantrik Metaram).

Advertisement