Kecil-kecil Bandar Narkoba

Daffa, bocah pemberani dari Kalibanteng Semarang. Pengendara motor naik ke trotoar langsung dicegat dan diomeli.

ORANG tua cap apapun pasti bangga, jika punya anak masih kecil sudah pemberani. Misalnya, berani jalan sendiri malam hari, berani melawan teman-temannya yang lebih gede, karena diperlakukan tidak adil. Tapi jika kecil-kecil sudah berani jadi bandar narkoba, adakah orangtua yang membanggakannya? Tapi ini benar-benar terjadi di Makasar, bahka yang jadi anak buahnya masih duduk di SMP. Dan orang yang mendengar berita ini akan merenung, kecil-kecil sudah jadi bandar narkoba, gede nanti mau jadi apa?

Adalah Polan (bukan nama asli) pelajar SMP yang baru berusia 14 tahun, kemarin diamankan Polsek Tallo, Makassar, setelah kedapatan mengedarkan narkoba jenis sabu di Jalan Panampu, Lorong II, Kampung Gotong, Kecamatan Tallo. Bocah ini diamankan bersama 1 saset sabu siap pakai. Dalam pemeriksaan, dia mengaku punya boss atau bandarnya, Polin yang masih duduk di bangku SD. Sayangnya, saat mau ditangkap juga “sang boss” sudah menghilang duluan.

Sedemikian rusakkah generasi muda sekarang? Masih kecil saja sudah berani jadi pengedar dan bandar narkoba. Bagaimana nanti kalau sudah dewasa, apa mau niru Pablo Eskobar (1949-1093) gembong narkoba dari Colombia? Jelas tak ada orangtua yang mau punya anak seperti Polan dan Polin, juga seperti Pablo Eskobar. Dalam kondisi kepepet, asal anak menurut dan tak menyusahkan keluarga, orangtua pastilah senang.

Orangtua selalu berharap, anak-anak yang di masa kecilnya pemberani, akan jadi orang sukses di kemudian hari. Sebab hanya dengan keberanian manusia bisa mengubah nasibnya. Manusia-manusia penakut yang tak berani ambil resiko, tak mungkin jadi orang sukses di kemudian hari. Dia paling cocok jadi PNS, kerjanya yang monoton, yang pinter goblok penghasilan sama (PGPS).

Bocah bisa menjadi salah didik seperti Polin, pastilah karena pengaruh oleh lingkungannya juga. Bisa karena orangtuanya miskin, sehingga tak mampu menyekolahkan anaknya di sekolah yang baik. Bisa juga karena pengaruh teman-teman sepermainannya. Dan bagi anak generasi milenial seperti sekarang bisa saja dia belajar bisnis narkoba gara-gara pengaruh internet.

Bila kita merujuk ke dunia perwayangan, kecil-kecil sudah jadi wayang pemberani, adalah tokoh bernama Wisanggeni (putra Harjuna) dan Antasena (putra Werkudara). Pada lakon carangan (di luar pakem) dalam usia ABG mereka sudah berani melabrak ke negara Astina untuk menuntut kembalinya negeri leluhur itu dari tangan Kurawa. Jangankan titah ngercapada, terhadap para dewa di kahyangan saja, kedua anak muda itu tiada sungkan melabraknya. Sayang dalam lakon pakem (sesuai kisah Mahabarata) keduanya juga mati muda, sengaja dibanjut (dicabut nyawanya) oleh dewa agar tak bisa ikut berperang dalam Perang Baratayuda, yakni berperangnya keluarga Pendawa melawan Astina (Kurawa).

Dalam dunia nyata, bocah pemberani yang perlu diacungi jempol adalah Daffa (10) pelajar SD dari Kalibanteng, Semarang. Meski masih anak ingusan, dia tahu bahwa trotoar itu haknya pejalan kaki, bukan pengendara sepeda motor. Maka ketika ada pengendara motor nekad melewati trotoar Jl. Jendral Sudirman, dia berani mencegatnya. Berkacak pinggang, berani debat dan memaksa orang dewasa yang tak tahu aturan berlalulintas itu untuk kembali ke jalan yang benar.

Semoga saja anak-anak kecil pemberani seperti Daffa, bisa menyebar ke mana-mana. Tapi sebaliknya yang ala Polan – Polin dari Makasar, cukup hanya mereka sajalah, jangan menular ke tempat lain. Bila terjadi Polanisasi dan Polinisasi di tempat-tempat lain, berarti bangsa Indonesia sudah dalam kondisi lampu merah. Padahal generasi muda selalu diklaim sebagai pewaris bangsa. Bila pewarisnya saja seperti itu, Indonesia bubar di tahun 2050 atau malah 2030 seperti “ramalan” Prabowo, bisa saja terjadi. Naudzubillah mindzalik. (Cantrik Metaram)

Advertisement