
KEDAULATAN pangan Indonesia terancam sejalan dengan meningkatnya konsumsi beras dan juga gandum yang harus diimpor, sementara berbagai pangan pokok lainnya seperti sagu, ubi kayu, jagung dan umbi-umbian sudah ditinggalkan.
Kepada Kompas (27/2), Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembisse mengungkapkan, warga Papua termasuk Asmat yang dulu mengonsumsi umbi-umbian dan sagu, berpindah ke beras sejak program raskin.
Sejak pemerintah memberikan bantuan beras bagi waga miskin pada 2003, menurut dia, peralihan konsumsi masyarakat ke beras semakin cepat.
“Semenjak ada program raskin, rakyat Papua tidak lagi mengolah pangan lokal, tetapi hanya menunggu jatah bulanan mereka, “ ujarnya.
Akibatnya, bencana (kelaparan-red) terjadi bila pasokan raskin terlambat tiba atau stok habis karena kendala transportasi ke wilayah-wilayah terpencil seperti dialami di Asmat dan kampung-kampung lainnya.
Untuk itu Yohana berpendapat, rakyat Papua khususnya, harus diajak kembali melakukan kearifan lokal yakni menanam dan menokok sagu, bahan pangan yang lebih sehat ketimbang beras.
Kekakayaan ragam tanaman pangan di negeri ini tercermin dari data Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian yang menyebutkan, terdapat 77 jenis tanaman sumber karbohidrat, 75 sumber lemak atau minyak, 26 jenis kacang-kacangan, 389 buah-buahan, 228 sayuran serta 110 rempah dan bumbu.
Selain itu, sagu menurut Guru Besar Agronomi Fakultas Pertanian IPB Bintoro, sagu adalah tanaman asli Indonesia yang potensinya melimpah ruah sampai enam juta HA, dengan produktivitas 20 sampai 40 ton sagu kering per HA.
Bandingkan saja, untuk menghasikan 30 juta ton padi diperlukan hamparan sawah seluas 12 juta HA, padahal untuk hasil yang sama, hanya dibutuhkan satu juta HA lahan bagi tanaman sagu.
“Jadi, satu juta HA tanaman sagu saja bisa memenuhi kebutuhan pangan bagi seluruh rakyat Indonesia selama setahun,” kata Bintoro.
Selain produktivitasnya tinggi, tanaman sagu juga dapat tumbuh di lahan marjinal seperti rawa-rawa dan gambut, jadi bisa dijadikan solusi bagi pengadaan sumber pangan di tengah sering terjadinya perubahan iklim dan cuaca.
Ancaman Krisis Pangan
Peringatan tentang ancaman krisis pangan disuarakan oleh Guru Besar Fakultas Pertanian IPB Dwi Andreas Santosa dalam diskusi di Kompas pekan lalu yang menyebutkan, porsi gandum sebagai pangan pokok naik dari 21 persen pada 2014 menjadi 25 persen pada 2015.
Kondisi tersebut, menurut dia, sangat mengkhawatirkan, karena sudah melebihi ambang batas 25 persen dan bakalan naik tiap tahun, padahal gandum seluruhnya diimpor.
Berdasarkan data BPS, pada 1954 porsi beras sebagai pangan pokok 53,5 persen, selebihnya dipenuhi dari ubi kayu (22,6 persen), jagung (18,9 persen) dan umbi-umbian (4,99 persen).
Sedangkan pada 1981, pola pangan pokok bergeser drastis, beras menjadi (81.1 persen), ubi kayu (10,2 persen)dan jagung (7,82 persen), pada 199 porsi ubi kayu tinggal 8,53 persen dan jagung tersisa 3,1 persen.
Kemudian memasuki 2010, konsumsi pangan pokok selain beras nyaris hilang, digantikan gandum, sedangkan konsumsi beras juga meningkat dari 96.6 Kg per kapita menjadi 101 Kg per kapita pada 2016.
Menurut catatan, pola negara pengosumsi beras di Asia, mulanya porsinya meningkat sesuai keberhasilan pembangunan, namun pada tahap berikutnya, konsumsi beras menurun, karena kemajuan memunculkan aneka ragam pangan non-beras seperti spagheti, burger, pasta atau panganan cepat saji lainnya .
Indonesia juga pernah mengampanyekan program diversifikasi pangan di era Presiden pertama Soekarno, namun tidak berkelanjutan, hanya menjadi sekedar retorika politik saat itu.
Mumpung lahan masih ada walau sebagian sudah beralih fungsi menjadi perumahan atau mall, mari kita biasakan kembali menanam jagung, umbi-umbian biji-bijian dan berbagai jenis tanaman pangan lainnya.
(kompas/ns)




