Kekurangan Dana, Pusat Transfusi Darah di Yaman Terancam Tutup

Wabah Kolera semakin menjamur di Yaman/ EPA
YAMAN – Pusat Transfusi Darah Nasional Yaman mengirim sebuah permohonan mendesak agar segera dikirim bantuan dana darurat  karena kekurangan uang.

Permohonan tersebut disampaikan kepala pusat pada hari Selasa (8/8/2017). “Pusat mengeluarkan seruan mendesak melalui media pemerintah pada hari Minggu, mendesak semua badan kemanusiaan internasional, badan amal, pengusaha, siapa saja yang tertarik untuk memberikan bantuan untuk menjaga operasi pusat,” kata Ayman al-Shahari.

Dia menambahkan bahwa penutupan Pusat Transfusi Darah Nasional Yaman  akan menjadi bencana besar bagi negara.

Al-Shahari mengatakan jika krisis tersebut menimpa pusat ketika badan amal medis Prancis Medecins Sans Frontieres (MSF) memutuskan untuk menghentikan bantuan dan dukungan mereka.

MSF telah menginformasikan kepada pusat bahwa mereka telah menyerahkan bantuan tersebut ke Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk membantu memerangi penyebaran epidemi kolera.


“Pusat ini telah bekerja keras sejak perang meletus lebih dari dua tahun yang lalu sampai sekarang untuk menyediakan pasien dengan kantong darah, solusi medis dan kebutuhan medis lainnya,” katanya, dilaporkan Xinhua.
“Tapi sekarang pusat kekurangan pasokan penuh untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” tambahnya.
Perang saudara dimulai di Yaman pada bulan Maret 2015, setelah koalisi pimpinan-Saudi campur tangan dalam konflik tersebut dengan meluncurkan kampanye udara berskala besar untuk mendukung pemerintah Yaman yang telah diakui secara internasional dari Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi melawan pemberontak Houthi yang didukung Iran, yang menyerang Ibukota Sanaa secara militer dan merebut sebagian besar provinsi Yaman utara.
Menurut badan-badan PBB, lebih dari 10.000 orang, kebanyakan warga sipil, telah terbunuh selama lebih dari dua tahun perang yang juga mengungsi lebih dari 3 juta orang. Negara ini sekarang berada di tepi kelaparan dan menderita wabah kolera yang mematikan yang menginfeksi lebih dari 600.000 orang dan membunuh hampir 2.000 orang.
Advertisement