Kelbes Alm. Yurizal Tutup Kasus Nirempatik Nakes

Kematian Yurizal hendaknya menjadi pembelajaran bagi semua pihak untuk membenahi layanan pasien BPJS, termasuk juga mengecek, apakah beban kerja nakes memang terlalu berat. (foto; Viva)

JAKARTA – (KBKNEWS) – 8/8 – KELBES almarhum Yurizal Tri Chaerawan menyatakan, seluruh proses terkait peristiwa dugaan sikap nirempatik termasuk perundungan oleh tenaga medis terhadap curhatan pasien BPJS Kesehatan yang sempat menyita perhatian publik di medsos dianggap selesai.

Pihak keluarga, seperti dilaporkan CNNI (8/8) berharap, persoalan yang menjadi viral di media termasuk medsos tidak lagi diperpanjang maupun menjadi bahan pembahasan atau polemik di ruang publik.

Pernyataan resmi tersebut disampaikan melalui akun Threads @yanifiltania. Mewakili keluarga almarhum, disampaikan pula permohonan kepada rekan media dan masyarakat umum untuk memberikan ruang serta ketenangan bagi keluarga yang saat ini masih dalam suasana duka.

“Kami masih berada dalam suasana duka dan memerlukan waktu serta ketenangan untuk menjalani masa berkabung. Dengan segala hormat, kami memohon kepada rekan-rekan media maupun pihak-pihak lainnya agar tidak lagi menghubungi anggota keluarga kami melalui berbagai saluran komunikasi,” tulis pernyataan resmi keluarga almarhum Yurizal, dikutip Jumat (7/8). CNNIndonesia.com sudah meminta izin untuk mengutipnya.

Selain memohon pengertian atas privasi mereka, pihak keluarga juga mengutarakan rasa terima kasih yang mendalam kepada publik dan semua pihak yang telah memberikan perhatian serta dukungan moral selama masa-masa sulit ini.

“Kami menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah memberikan doa, dukungan, perhatian, dan simpati kepada almarhum serta kepada keluarga kami. Semoga segala kebaikan yang telah diberikan mendapat balasan yang berlipat ganda dari Tuhan YME,” lanjut pernyataan tersebut.

Kasus ini sebelumnya menjadi sorotan luas di media sosial menyusul dugaan kurangnya rasa empati dari sejumlah oknum tenaga medis dan tenaga kesehatan (nakes).
Polemik bermula dari keluhan mendiang Yurizal yang diunggah melalui akun Threads miliknya, @yurizaltrich, pada 22 Juli 2026.

Dalam unggahan tersebut, almarhum menceritakan pengalamannya yang harus menunggu hingga delapan jam tanpa kepastian ruangan saat hendak menjalani perawatan medis menggunakan fasilitas BPJS Kesehatan.

Meski almarhum saat itu sengaja tidak menyebutkan nama rumah sakit tempatnya berobat, unggahan tersebut menuai beragam respons di linimasa, termasuk tanggapan dari sejumlah oknum nakes yang dinilai publik tidak mencerminkan sikap empati.

Belakangan setelah penelusuran, Kemenkes mengakui, Yurizal saat itu menunggu hingga 8 jam di IGD RSCM, Jakarta Pusat.

Sejumlah nakes, dokter dan perawat yang merespons keluhan Yurizal bernada merendahkannya di medsos juga sudah menyampaikan maaf dan dikenakan sanksi oleh atasan bersangkutan.

Ungkapan empati bermunculan di medsos terhadap Yurizal yang kemudian meregang nyawa tujuh hari setelah menyampaikan keluhannya, sebaliknya hujatan dilontarkan kepada para nakes tersebut dan juga tuntutan agar sistem layanan pasien BPJS diperbaiki.

Kapasitas terbatas

Sementara itu, Dirjen Kesehatan Lanjutan Kemenkes Azhar Jaya menyebut lamanya waktu tunggu, bukan karena pasien tidak mendapat penanganan di IGD, melainkan karena membutuhkan perawatan di High Care Unit (HCU), sementara kapasitas ruang tersebut terbatas.

Ia mengatakan RSCM merupakan rumah sakit rujukan nasional, sehingga tingkat keterisian fasilitas perawatan cukup tinggi. Menurutnya, kondisi itu pun turut memengaruhi waktu pemindahan pasien dari IGD ke ruang perawatan yang dibutuhkan.

“Prinsipnya di RSCM adalah pusat rujukan nasional, kemungkinan besar RSCM penuh itu sangat besar. Tapi apa harus menunggu 8 jam itu tergantung situasi, kalau kosong ya lebih cepat dari itu,” kata pria yang akrab disapa Aco tersebut, Kamis (6/8).

Azhar menjelaskan Yurizal tidak membutuhkan kamar rawat inap biasa. Kondisi pasien mengharuskannya mendapatkan perawatan di HCU yang memiliki jumlah tempat tidur terbatas.

“Kondisi pasien yang meninggal dan viral itu memang menunggu 8 jam karena butuh HCU yang jumlahnya terbatas dan bukan kamar rawat inap biasa,” ujarnya.

Selain membutuhkan perawatan khusus, Yurizal disebut juga memiliki penyakit penyerta dengan kondisi yang cukup berat, namun demikian, Kemenkes tidak mengungkap diagnosis pasien karena alasan kerahasiaan medis. “Pihak keluarga sudah paham akan kasus ini,” klaimnya.

Apa pun argumennya, kasus yang menimpa Yurizal hendaknya dijadikan pintu masuk untuk memperbaiki layanan program BPJS yang sangat dibutuhkan rakyat terutama ekonomi kelas bawah, sebaliknya perhatian terhadap nakes, bisa jadi, beban kerja mereka terlalu berat, sementara perhatian dari atasan atau remunerasi yang dberikan tidak sepadan. (CNNI/ns)

 

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here