Keluar Malam Diclurit Sama Geng Motor

Fachri, 15 tahun, hampir tidak pernah berhenti merintih. Ia terbaring di Bed 9, Kelas 3 sebuah rumah sakit di Jakarta Timur. Nampaknya ia kepanasan, kipas angin dari loteng rumah sakit tidak cukup membuat ia adem. Sehingga pihak keluarga harus memasang dua kipas angin kecil di bagian kaki dan kepalanya.

Ketika Fachri merintih kepanasan bukan saja kipas angin yang berusaha membuat dia nyaman, ibu serta kakak-kakaknya turut mengipasi dengan kipas tangan. Sambil mengelus bagian yang sakit dengan lembut.

Fachri, masuk ke rumah sakit, melalui IGD, Minggu dinihari, 1 Nopember 2015, ia diantar oleh temannya dengan taksi. Bagian punggungnya sobek dengan luka menganga. Ia baru saja ditusuk ketika hendak menolong temannya yang tengah dibacok geng motor, di sekitar Lubang Buaya, Jakarta Timur.

Salahsatu anggota Geng Motor menghajarnya dengan clurit. Ia terjatuh dan tersungkur tak berdaya. Kawanan kriminal itu berhasil melarikan diri.

Oleh temannya yang lain Fachri dilarikan ke rumah sakit terdekat, tapi ditolak rumah sakit itu. Alasannya Fachri tidak dibawa oleh polisi, karena ia korban kriminal. Karena itu dengan segera ia dilarikan ke rumah sakit lain di Jakarta Timur yang biasa menangani kasus kecelakaan seperti itu.

Sesampai di IGD, mengetahui Fahcri sudah tertolong medis, teman-teman Fachri yang menolong tadi menghilang. Ketika pihak rumah sakit mencari dan supir taksi meminta pembayaran, mereka sudah tidak ada. Semuanya menjadi bingung.

Pihak rumah sakit meski belum mendapat persetujuan keluarga berusaha menolong nyawa Fachry, langsung memberikan pertolongan darurat dengan menjahit luka yang nganga, agar darah tidak mengucur terus.

tmp_11075-IMG-20151105-WA00011398047222Barulah subuh-subuh keluarga Fachri datang menjenguk. Ibunya Sumikem, 53 tahun, yang sudah tua dan menjanda itu kaget melihat kondisi anaknya. Teman-teman Fachri juga berdatangan, merekalah yang akhirnya patungan untuk membayar ongkos taksi, yang ditunggui supirnya sampai pagi.

“Kami baru tahu jam 6 pagi, temannya yang ngantar itu menelpon, katanya Fahcri masuk rumah sakit. Kaget, kami sekeluarga dan teman-teman Fachri di rumah langsung berangkat ke rumah sakit,” ujar Nur, uwanya Fachri kepada KBK.

Setelah keluarga datang, Fachri dibawa ke ruangan rawat dan atas persetujuan keluarga, pihak rumah sakit melakukan bedah, bagian dalam usus dan paru Fachri dilihat dengan seksama.

Alhasil, dari pengamatan dokter, ternyata pleura paru-paru Fachri terkena tusukan benda tajam. Dokter pun memberikan tindakan pertolongan terhadap luka itu. Slang pun dipasang dari bagian rusuk untuk mengeluarkan cairan yang tergenang di paru-paru yang luka.

“Ada-ada saja musibahnya,” tambah Nur.

Dikatakan oleh Nur, Fachri adalah anak yatim. Sejak 5 tahun yang lalu, dia ditinggal wafat oleh ayahnya Muhammad Hadis, dia dan ibu beserta tiga saudara lainnya tinggal di kawasan Taman Mini Pintu II, Jakarta Timur. Fachri masih duduk di kelas 1 SMP.

Nur juga heran, kenapa pihak keluarga bisa kecolongan Fahcri bisa keluar malam-malam sampai terjadi hal yang tidak diinginkan itu.

“Biasanya juga tidak keluar malam, dia sering main ke rumah saya,” ujar Nur.

Bagi Nur dan keluarga kejadian itu menjadi pelajaran yang berharga, agar lebih hati-hati menjaga anak remaja, supaya tidak terlibat dalam perkelahian geng atau keluar malam yang tidak ada gunanya.

Kini pihak keluarga berharap pertolongan Yang Kuasa, agar Fachri segera disembuhkan. Hanya satu yang mereka bingung, selama ini Fachri tidak terbiasa makan nasi. Sehari-hari ia hanya makan telor, ayam dan mi instan.

“Kita nggak tahu harus memberi makan apa, sementara pihak rumah sakit memberi makanan bubur,” jelas Nur.

Semoga saja Fachri adalah remaja terakhir yang menjadi korban kriminal di malam hari, karena dirawat di rumah sakit akibat luka sabetan benda tajam tidaklah enak, ditambah lagi menjadi pasien tidak akan memberikan kebebasan untuk makan sesuai kebiasaan.

Advertisement