Kemarau Panjang, Air Berkurang

ilustrasi kemarau

MUSIM hujan ditandai bencana longsor dan banjir yang biasa menyambangi sebagian kawasan nusantara, berganti dengan kemarau panjang saat ini yang menyebabkan kekeringan dan kelangkaan air di sejumlah wilayah nusantara.

Walau kemarau kali ini tidak separah tahun lalu, kehadirannya mulai menganggu stabilitas pangan dan energi listrik yang merupakan kebutuhan dasar penduduk dan kondisinya bakal semakin parah,mengingat kemarau panjang diprediksi masih berlanjut hingga Oktober.

Berdasarkan pantauan Kompas (15/9), level duga permukaan air Waduk Riam Kanan, Banjar, Kalimantan Selatan pada 55,8 meter atau turun 2,2 meter dari ketinggian normal, sehingga berdampak pada pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Muhammad Noor. Tiga turbin berkapasitas 10 MW dioperasikan bergantian dan turunna muka air juga membuat usaha budidaya keramba terapung di danau terganggu.

Di Jawa Tengah, empat waduk berkapasitas enam hingga 10 juta M3 yakni Waduk Botok dan Waduk Brambang di Kab. Sragen serta Waduk Kedungguling dan Waduk Plumbon di Kab. Wonogiri kering hingga lahan pertanian seluas 5.000 Ha tidak teraliri air.

Beruntung, waduk-waduk besar seperti Waduk Kedungombo di Kab. Boyolali dan Gajahmungkur di Kab. Wonogiri masih relatif aman, masing-masing dengan target debit air 435,805 juta M3 dengan realisasi 393,046 dan 143,299 juta M3 dengan realisasi 136,374 juta M3.

Sementara pengoperasian tiga waduk di Kab. Madiun, Jawa Timur yakni Waduk Notopuro, Waduk Dawuhan dan Waduk Saradan dihentikan total sejak sebulan lalu karena volume air yang tersisa tinggal 10 persen, sehingga 11.000 Ha sawah terancam kekeringan. Volume air di sejumlah waduk lainnya di Pulau Jawa dan luar Jawa juga menyusut .

Kekeringan merupakan bencana alam yang tidak bisa dielakkan, namun melalui tindakan mitigasi, tentu korban atau risiko kerugian bisa ditekan.

Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) mentargetkan pembangunan 65 bendungan selama 2015-2019 dalam guna mempercepat peningkatan ekonomi disegala bidang termasuk menggenjot hasil panen sehingga mendukung ketahanan pangan nasional.

Tujuh bendungan telah rampung, ketujuh bendungan itu adalah Bendungan Jatigede, Bendungan Bajulmati, Bendungan Nipah, Bendungan Titab, Bendungan Paya Seunara, Bendungan Rajui dan Bendungan Teritib.

Dari target pembangunan 29 bendungan dengan atotal biaya Rp18,25 triliun hingga akhir 2019, tiga bendungan yakni Bendungan Raknamo, Bendungan Tanju dan Bendungan Marangkayu rampung tahun ini.

Selain terus membangun infrastuktur seperti waduk atau bendungan dan saluran irigasi, mitigasi bencana juga perlu dilakukan misalnya dengan menyiapkan tandon-tandon air, tanki-tanki bantuan air, membangun sumur resapan atau mengubah pola tanam.

Advertisement