MALUKU – Kemarau panjang telah mengakibatkan ratusan bahkan hampir mencapai 1.000-an ekor kerbau mati mengenaskan setiap tahun di Pulau Moa bagian timur, Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku.
“Ada surat dari Kades Tounwawan, Kecamatan Moa, Kabupaten Maluku Barat Daya yang ditujukan ke Dirjen Sumber Daya Air Kementerian PUPR dan tembusannya disampaikan ke Komisi III DPRD Provinsi Maluku terkait kematian kerbau akibat kemarau dan sulitnya mendapatkan air,” kata Ketua Komisi III DPRD Maluku, Anos Yermias di Ambon, Selasa.
Ia menjelaskan bahwa matinya ternak kerbau milik warga Kecamatan Moa ini bermula dari kunjungan reses yang dilakukan Anos Yermias ke Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) maupun Kabupaten Kepulauan Tanimbar.
Menurut dia, dari kunjungan ke desa-desa dan dusun di Kabupaten MBD terungkap setiap tahunnya angka kematian kerbau cenderung naik akibat musim kemarau panjang yang biasanya berlangsung antara September hingga awal Desember.
“Setiap tahun per dusun, misalnya di Dusun Kiera yang merupakan petuanan (hak ulayat) Desa Tounwawan, kematian kerbau mencapai sekitar 300-an ekor belum termasuk desa induk yang bervariatif antara 300 hingga 500 ekor kerbau,” kata Anos.
Kemudian saat kunjungan kerja di Desa Klis, Kabupaten MBD angka kematian kerbau setiap tahun juga mengalami peningkatan.
Ke depan, pada tahun 2021 bisa dibangun sarana air bersih di Tounwawan dan Dusun Klis untuk menyelamatkan kerbau-kerbau yang selama ini hidup dan makan di padang rumput.
“Ini merupakan harapan DPRD dan mudah-mudahan saja surat yang disampaikan kepala desa bisa segera terealisasi,” katanya, dikutip Antara.





