Kenali Sarkopenia, Kondisi Hilangnya Massa Otot pada Lansia dan Kiat Mencegahnya

Ilustrasi. (Foto: Freepik)

JAKARTA – Sarkopenia adalah kondisi di mana massa dan kualitas otot menurun sehingga menyebabkan kesulitan dalam melakukan aktivitas fisik pada penderitanya. Penyakit ini biasanya terjadi pada orang lanjut usia, karena seiring bertambahnya usia, massa otot secara bertahap berkurang.

Penyebab timbulnya sarkopenia adalah kurangnya aktivitas fisik dan latihan sebelumnya oleh penderita, serta kekurangan asupan nutrisi khususnya protein.

Dr. dr. Nina Kemala Sari, SpPD-KGer, MPH, seorang ahli geriatri, menjelaskan bahwa puncak massa otot manusia terjadi antara usia 20 hingga 30 tahun. Setelah mencapai usia 30 tahun, massa otot akan berkurang sekitar 2 hingga 3 persen setiap dekadenya.

Pada usia 40 tahun, penurunan massa otot mencapai 8 persen per dekade. Ketika mencapai usia 70 tahun, penurunan massa otot mencapai 15 persen per dekade.

Selain orang lanjut usia, sarkopenia juga dapat memengaruhi perempuan, orang dengan penyakit kronis tertentu, dan pasien yang mengonsumsi beberapa jenis obat.

Nina, yang juga menjabat sebagai Ketua PP Perhimpunan Gerontologi Medik Indonesia (Pergemi), menjelaskan bahwa mereka yang berisiko tinggi mengalami sarkopenia adalah mereka yang berusia di atas 60 tahun, perempuan, memiliki penyakit kronis seperti penyakit paru-paru, gagal ginjal, diabetes, dan berbagai penyakit kronis lainnya, serta mengonsumsi beberapa jenis obat.

Gaya hidup yang sedentari atau minim aktivitas fisik merupakan salah satu penyebab utama terjadinya risiko sarkopenia, terutama jika berlangsung selama lebih dari enam jam per hari.

Oleh karena itu, masyarakat, terutama para pegawai kantor yang banyak menghabiskan waktu dalam keadaan tidak bergerak, disarankan untuk melakukan aktivitas fisik seperti berjalan-jalan di antara rutinitas kerja mereka.

“Dalam kesibukan kerja, perlu bergerak dan meningkatkan aktivitas. Jangan duduk selama 8 jam secara terus-menerus, karena itu merupakan gaya hidup yang kurang aktif,” jelas dosen dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu.

Nina menyarankan agar melakukan latihan fisik untuk mencegah risiko sarkopenia, seperti olahraga aerobik dan olahraga resistensi seperti angkat beban. Idealnya, latihan ini dilakukan selama satu jam per hari, lima kali seminggu.

“Saran dari WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) adalah 150 hingga 300 menit per minggu. Latihan fisiknya harus bervariasi, termasuk aerobik untuk kekuatan otot, tulang, dan jantung, serta latihan resistensi untuk membentuk massa otot,” kata Nina, dilansir dari Antara.

Bagi lansia, variasi latihan fisik dapat ditambah dengan latihan gaya jalan tegak dan latihan keseimbangan. Nina menganjurkan agar lansia melakukan latihan fisik yang lebih bervariasi.

“Sebaliknya, seiring bertambahnya usia, aktivitas fisik semakin berkurang, dan jenis olahraganya juga semakin sedikit. Padahal, saran dari WHO sebenarnya mengharuskan variasi olahraga semakin meningkat,” kata Nina.

Sebagai seorang dokter spesialis penyakit dalam dan konsultan geriatri di RS Cipto Mangunkusumo, Nina juga mengingatkan pentingnya mengonsumsi makanan kaya protein berkualitas tinggi, seperti daging, telur, dan kacang-kacangan.

“Protein berkualitas tinggi mengandung asam amino esensial yang harus dipasok dari luar tubuh dan tidak diproduksi oleh tubuh sendiri. Sumbernya dapat berasal dari daging ikan, daging sapi, daging ayam, telur, dan berbagai jenis kacang-kacangan,” ujarnya.

Untuk mendeteksi gejala sarkopenia, Nina menjelaskan ada dua metode yang dapat digunakan. Metode pertama adalah dengan memeriksa lingkar betis.

“Jika lingkar betis pria kurang dari 34 sentimeter dan wanita kurang dari 33 sentimeter, maka perlu diperiksa lebih lanjut,” kata Nina.

Metode kedua adalah dengan melakukan pemeriksaan medis jika mengalami beberapa gejala seperti mudah lelah saat melakukan kegiatan yang membutuhkan kekuatan otot dan penurunan berat badan.

Advertisement