Kenangan Pelajar-Mahasiswa Yogyakarta

Tukang martrabak telur sedang menggoreng martabak, bikin ngiler pelajar kantong cekak.

YOGYAKARTA bukan saja kota perjuangan, tapi juga kota pendidikan. Sebagai Ibukota RI (4 Januari 1946-17 Desember 1949), kotanya Ngersa Dalem (Sultan HB) punya andil besar untuk ikut mempertahankan republik. Sebagai kota pendidikan, banyak pemimpin bangsa yang menuntut ilmu dari pelajar hingga mahasiswa, juga dari Yogyakarta. Pendek kata, kota Yogya menyimpan sejuta kenangan bagi mereka yang pernah tinggal di sana.

Setelah Orde Baru giat membangun bangsa, di berbagai kota tumbuh banyak sekolah dan perguruan tinggi negeri. Tapi tahun 1960-an, paling banyak tempat menuntut Ilmu hanyalah Yogyakarta. Sekolah favorit masa itu adalah: Mualimin-Mualimat Muhammadiyah, SMA Debrito, SMA Stelladuce. Dan untuk perguruan tinggi, paling top adalahn UGM, yang orang Jawa waktu itu mengejanya sebagai: Universitas Gajah Modo. Lulusan SMA yang kuliah di Gajah Modo, di masa itu sungguh luar biasa.

Seniman kondang sebagaimana WS Rendra (Solo), Putu Wijaya (Bali), mereka berproses seni juga ketika masih menjadi mahasiswa di Yogyakarta. Putu Wijaya yang dikenal sebagai jurnalis dan novelis, sebetulnya lulusan Fakultas Hukum UGM. Tapi karena titel MR dihapus dan diganti jadi SH (Sarjana Hukum) dia jadi kecewa berat. Dia tak mau lagi cari nafkah lewat disiplin ilmunya yang “dilecehkan” jadi SH itu. “Kalau mister (Mr) kan keren,” ujarnya sekali waktu.

Pelajar-mahasiswa yang menuntut ilmu di Yogya bukan saja dari Pulo Jawa, tapi juga Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan provinsi luar Jawa lainnya. Di masa sekarang, banyak mahasiswa pelajar makmur, karena orangtuanya pengusaha kelapa sawit, dan sebagainya. Akan tinggal di rumah kos yang mewah, dipegangi mobil. Kurang uang tinggal telpon, beberapa menit kemudian sudah bisa diambil di ATM.

Mahasiwa tahun 1960-hingga 1975-an, boro-boro. Untuk menerima kiriman uang dari kampung harus berkirim surat, nanti baru wesel datang. Banyak pelajar/mahasiswa gadaikan dulu pakaian, karena kiriman dari kampung telat. Maka seorang eks pelajar PGA Muhammadiyah Gedong Tengen alumni tahun 1967, pernah dikerjain teman sekelasnya 40 tahun kemudian. “Dengan Pak Mirwan (bukan nama asli) ya? Kami dari Pegadaian Ngupasan, ini ada baju hem warna merah jambu, belum ditebus sejak tahun 1966, Pak!” Tentu saja kaget, tapi setelah tahu siapa yang jahil, tertawa terpingkal-pingkal.

Kiriman dari kampung harus dihemat, jangan sampai terjadi defisit anggaran. Makan pagi jam 10, dan nanti makan malam pukul 19.00. Jadi sehari cukup makan dua kali. Bahkan kadang ada yang nakal di warung Mbok Bon di sekolah. Makan 2 ngaku satu. Maka istilahnya kala itu: Darmaji alias dahar lima ngaku siji.

Jika jajan sebagai penggganjal perut, paling balok (ubi goreng), bakwan dan tempe gembus atau tempe benguk. Melihat wedang ronde, sate Pak Amat di alun-alun lor, atau martabak populer di pasar malem grebek Mulud, hanyalah “kucing nggondhol sabun, kala menjing munggah mudhun (baca: ngiler), karena tak mampu beli. Pelajar itu hanya puas melhat bagaimana martabak telur itu ketika dibuat dan digoreng di pojok Gedung Sana Budaya.

Jika masak sendiri, paling demen bikin sayur lodeh. Apa rahasianya? Sayur lodeh ini bisa bertahan sampai 2 hari. Semakin diangetin, semakin enak. Ada juga yang menyiasati dengan setiap hari berlauk kecap. Ada pula yang setiap hari makan pakai sambel digoreng, sehingga keringatnya pun  bau bawang goreng.

Ketika berpuluh-puluh tahun kemudian sudah sukses jadi orang di Jakarta, banyak yang dibelit rindu, ingin  tinggal di Yogya di hari tua. Maka harga tanah di Yogya kini semakin “liar”, karena banyak orang berduit di Ibukota ingin bernostalgia di hari tua di Kota Gudeg.  (Cantrik Metaram)

 

 

 

 

 

Advertisement