Kencangnya Arus Perairan Karawang Sempat Buat Penemu Black Box Lion Air Putus Asa

JAKARTA – Panglima Komando Armada I Laksamana Muda TNI Yudo Margono mengatakan sang penyelam  Sersan Satu Marinir Hendra Syahputra yang menemukan satu dari dua kotak hitam alias black box Lion Air sempat alami kendala.

Hendra adalah satu dari dua penyelam dari Kesatuan Intai Amfibi Korps Marinir yang diterjunkan untuk mencari kotak hitam. Berbekal alat pendeteksi black box yang dipinjamkan Komite Nasional Keselamatan Transportasi, ia dan rekannya, Kopral Dua Nur Ali, menyelam ke kedalaman 35 meter di bawah permukaan laut.

Hendra menemukannya saat menyelam di kedalaman 35 meter, dengan koordinat S 05 48 48.051 – E 107 07 37.622 dan koordinat S 05 48 46.545 – E 107 07 38.

Sang penyelam sebelumnya sempat putus asa mencari kotak hitam pesawat Lion Air JT 610 itu akibat derasnya arus bawah laut perairan Karawang. “Begitu kami turun, arusnya kencang,” kata dia. Dengan keterbatasan alat yang ada, Hendra menjelaskan, tim menggunakan tali untuk tidak terbawa arus. “Karena tali tersebut agak menghambat kami.”

Tak hanya itu, pada mulanya ia sempat ragu lantaran hanya mendapati sedikit serpihan pesawat di area yang memancarkan sinyal black box.

Namun demikian, tim terus mengikuti sinyal itu hingga mengarah pada endapan lumpur yang menutup sebagian kotak hitam di dasar laut. “Kami sempat putus asa karena arus sangat kencang.”

Di tengah kondisi itu, Hendra dan tim yakin untuk terus mengikuti alat yang dibawa. “Kami kecilkan areanya, lalu pada tempat yang alatnya menimbulkan bunyi sensitif kami gali lumpur tersebut dan mendapatkan black box,” kata dia, dikutip Tempo.

Yudo mengatakan penemuan kotak hitam itu adalah buah kerja dari tim yang bertugas sejak awal kecelakaan terjadi.

Sejak awal pasukannya ditugaskan untuk membantu Basarnas mencari kotak hitam, korban, hingga badan pesawat Lion Air JT 610.

“Di bawah kendali Basarnas kami melaksanakan tugas ini selama 24 jam,” tutur Yudo.

 

 

 

Advertisement