
PENGGUNAAN transportasi umum di wilayah Jabodetabek dan kota-kota lainnya di Indonesia menurun, padahal, padahal, moda angkutan tersebut merupakan cerminan kemajuan peradaban suatu kota atau negara.
Hasil survei Litbang Kompas (Kompas 19/7) diikuti 522 responden di 16 kota besar di Indonesia pada 23 -25 Juni lalu menyebutkan, sejak merebaknya pandemi Covid-19, separuh lebih (55,7 persen) warga Jabodetabek dan 72,2 persen warga di luar Jabodetabek lebih sering menggunakan kendaraan pribadi.
Mayoritas responden (74,9 persen), baik di wilayah Jabodetabek mau pun di kota-kota lainnya mengaku khawatir bakal terpapar virus tersebut jika berpergian dengan kendaraan umum, dan hanya 22,4 persen yang merasa tidak khawatir.
Kendaraan beroda dua adalah moda transportasi pilihan tertinggi warga Jabodetabek (55,7 persen), terlebih lagi bagi warga di luar Jabodetabek (72,2 persen), sedangkan mobil pribadi (17,5 persen dan 12,9 persen), jalan kaki (8,2 persen dan 2,8 persen).
Kemudian, pengguna bus umum (5,2 persen dan 4,2 persen), ojek motor (4,1 persen dan 2,4 persen), taksi (3,1 persen dan 1,2 persen), KRL atau KA lokal (2,1 persen dan 0, 2 persen), sepeda (1,0 persen dan 1,6 persen), angkot (satu dan 0,5 persen), kapal atau perahu (0 persen dan 1,3 persen), selebihnya (2,1 persen dan 1,3 persen) tak menjawab.
Sejak merebaknya Covid-19, 11,3 persen warga Jabodetabek dan 11,8 persen di luar Jabodetabek justeru beralih dari moda angkutan umum ke kendaraan pribadi, sebaliknya masing-masing 2,1 persen dan 0,9 persen beralih dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum.
Mayoritas responden warga Jabodetabek (66 persen) dan warga di luar Jabodetabek (79,2 persen) tetap memilih menggunakan kendaraan pribadi sejak maraknya Covid-19, 14,4 persen dan 5,9 persen tetap menggunakan transportasi umum, sementara masing-masing 6,2 persen dan 2,3 persen tidak menjawab
Kondisi tersebut tentu kurang menggembirakan, mengingat gencarnya pemerintah mengembangkan transportasi umum yang tertuang dalam Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015 -2019 dan 2020 -2024.
Selain moda angkutan massal berbasis rel seperti MRT, LRT dan jalur lingkar layang KA di wilayah Jabodetabek, pemerinta juga mengembangkan angkutan KA perkotaan d 10 metropolitan serta moda angkutan massal bus di 34 kota besar lainnya.
Minimnya penggunaan moda transportasi umum, a.l. karena faktor jarak stasiun atau halte bus, ketepatan dan kejelasan jadwal, 4-K (kecepatan, kenyamanan, keselamatan dan kebersihan), frekuensi angkutan dan besarnya tarif, dan khusus di tengah pandemi Covid-19, kekhawatiran akan terpapar.
Kondisi tersebut tentu menjadi “PR” besar bagi pemerintah, karena dimana-mana, moda transportasi massal di perkotaan jelas lebih efisien, aman, nyaman dan murah.




