
SANTIAGO – Hanya gara-gara anak buahnya menembak mati 2 remaja, Kepala Kepolisian Cile, Mario Rozas, mengundurkan diri.
Pengunduran diri pria tersebut diumumkan setelah beberapa polisi menembak dua remaja di bawah umur dalam insiden yang memicu kemarahan di seluruh negeri Amerika Latin itu.
Presiden Cile, Sebastian Pinera, menyatakan telah menerima pengunduran diri Rozas. Dia pun mengaku telah mengetahui alasan dan argumen yang diberikan Rosaz atas pengunduran dirinya, pada Kamis (19/11/2020).
Kelompok oposisi kiri Cile selama berbulan-bulan telah meminta Rozas untuk mengundurkan diri. Tuntutan tersebut menyusul kritik dari kantor hak asasi manusia (HAM) PBB dan sejumlah organisasi lain atas penindasan dan kekerasan aparat kepolisian terhadap para pengunjuk rasa yang menggelar protes sosial di negara itu.
Polisi Cile pada Rabu (18/11/2020) menembak dan melukai dua bocah di bawah umur. Kedua korban masing-masing berusia 17 tahun dan 14 tahun. Penembakan terjadi di sebuah tempat penampungan anak-anak dan remaja bermasalah di Kota Talcahuano, Cile Selatan.
Rekaman menunjukkan, para remaja menggeliat di tanah setelah mereka ditembak di kaki.
Dikutip dari laman iNews, Ombudsman Anak Cile, Patricia Munoz, mengecam polisi karena menggunakan senjata api dengan cara yang sangat tidak adil dan berlebihan.
“Situasi ini adalah satu lagi manifestasi dari kengerian kekerasan negara yang dilakukan oleh lembaga yang memiliki kewajiban untuk melindungi anak dan remaja, malah menyerang mereka dengan cara yang tidak tepat dan tidak semestinya,” kata Munoz.



