Kerbau Kraton Kyai Slamet

Kerbau Kraton Surakarta, Kyai Slamet, setiap malam 1 Suro diarak bersama kirab pusaka.

TANGGAL 21 September 2017 hari ini bertepatan dengan datangnya tahun baru Islam, 1 Muharam 1439 H. Sudah menjadi tradisi turun-temurun di Kraton Surakarta dan Yogyakarta, pada tengah malam pukul 00.00 digelar kirab pusaka Kraton keliling kota. Tapi untuk tahun ini, kecuali Mangkunegaran, kirab pusaka baru digelar nanti malam. Kerbau bule Kyai Slamet dari Kraton Surakarta yang selalu ditunggu oleh masyarakat Surakarta, tadi malam sama sekali juga tidak keluar. Mungkin baru ada keperluan.

Menurut pengageng Kraton Surakarta, kirab yang akan digelar malam nanti, akan ada kejutan sebagaimana yang dijanjikan Sinuwun Paku Buwono XIII. Apa kejutannya, mungkin karena lebih banyaknya pusaka Kraton yang dikirab keluar. Bisa juga Ingkang Wicaksana Sinuwun Paku Buwono Kaping XIII ingin menunjukkan bahwa pusaka Kraton Kasunanan masih lengkap. Sebab isyu di luaran menyebutkan, pusaka Kraton banyak yang tinggal duplikat karena diperjual-belikan.

Terlepas dari isyu tersebut, bagi masyarakat Jawa Surakarta dan Yogyakarta, hadirnya tahun baru Islam yang biasa disebut sasi Suro itu sangat diistimewakan. Ada orang yang karena kepercayaannya, hanya pada malam itu dia mandi byarr-byurrrr….. secara normal. Hari-hari biasanya dia tak pernah mandi, kecuali sibin atau dilap saja pakai air. Apakah tidak bau? Kan ada pewangi tubuh yang setia setiap saat, sehingga orang tak perlu rodo mrono (menghindar) gara-gara tak tahan baunya.

Di Solo (Mangkunegaran), ada arak-arakan mbisu mengelilingi beteng Kadipaten peninggalan RM. Said, Mangkunagaro I. Tapi yang paling banyak menarik warga Surakarta dan sekitarnya termasuk para turis, adalah hadirnya kerbau bule Kyai Slamet yang sekarang tinggal berjumlah 7 ekor tersebut. Setiap malam 1 Sura dia dengan setia dan ikut berjalan pelan di depan arak-arakan pusaka Kraton.

Kraton Yogyakarta tak memiliki piaraan kerbau semacam Kyai Slamet. Karena kerbau tersebut sesungguhnya adalah kerbau keturunan dari sejak jaman Paku Buwono II. Kerbau itu semacam “gratifikasi” atau oleh-oleh dari Adipati Ponorogo, ketika Ingkang Sinuwun Mas Garendi (PB II) keplayu (mengungsi) gara-gara Kraton Kartosura hancur akibat pemberontakan orang Cina yang biasa disebut Geger Pecinan. Pemberontakan itu sendiri berawal dari Batavia tahun 1740, tapi kemudian merembet ke Kartosura 30 Juni 1742, meski kala itu belum ada medsos dan Saracen.

Awalnya kerbau itu hanya sepasang, jantan dan betina. Tapi ratusan tahun kemudian telah beranak pinak. Tak diketahui pasti, kenapa yang dipelihara di Alun-alun Kidul Kraton Surakarta itu jumlahnya hanya tinggal 7 ekor saja, pernah juga sampai 12 ekor. Padahal secara logika, kaum maesa (kerbau) yang tak mengenal KB pastilah juga akan berkembang biak memperbanyak keturunan.

Orang Surakarta sangat menghormati kerbau Kraton itu. Ke mana saja mereka pergi, tak ada yang berani mengusiknya. Bahkan tlethong atau kotorannya ada juga yang memanfaatkan untuk pilis, dioleskan ke jidat sebagai obat. Para bakul penjual di pasar, takkan mengusir kerbau-kerbau itu ketika memakan dagangan mereka. Bahkan kabarnya kerbau Kyai Slamet ini juga doyan blanggreng (singkong goreng).

Paling unik, kerbau ini bisa bebas lepas ke mana saja. Berjalan tanpa juntrung sampai ke Sragen, Karanganyar, Boyolali maupun Klaten tanpa lelah dan tak ingin naik angkot. Anehnya, ketika menjelang 1 Suro kerbau itu biasa kembali komplit di pangkalan atau kandangnya. Begitu jajah (banyak yang dikunjungi) sang kerbau, di kota Solo jika ada orang tidak pernah ke mana-mana dan tak mau ke mana-mana, akan diledek, “Kok kalah karo Kyai Slamet.” (Cantrik Metaram)

Advertisement