
JANGAN anggap remeh jika anda sering pusing atau sakit kepala di titik yang sama dan terasa berdenyut, karena bisa jadi itu gejala aneurisma atau pelebaran pembuluh darah di otak.
Dokter spesialis bedah saraf RS Pondok Indah, Jakarta, Mardjono Tjahyadi kepada Kompas di Jakarta (24/9) mengemukakan, aneurisma otak biasanya terjadi tanpa gejala, sementara tanda-tanda nyeri dan gangguan saraf otak hanya dirasakan oleh sekitar tujuh persen pasien.
Keluhan, lanjutnya, baru muncul saat pembuluh darah otak pecah, dialami oleh lebih 90 persen pasien dan berakibat fatal, angka kematiannya mencapai separuh pasien dan dari yang selamat, dua pertiganya mengalami cacat permanen.
Oleh sebab itu, deteksi dini aneurisma otak diperlukan walau tidak ada keluhan, khususnya bagi seseorang dengan faktor risiko, misalnya dengan riwayat merokok atau mengosumsi alkohol, hipertensi, riwayat keluarga terkena stroke atau perempuan di atas 40 tahun dengan pemeriksaan computed tomography angiography (CTA), magnetic resonance angiography (MRA) dan digital subtraction angiography (DSA).
Sementara menurut dokter Rubiana Nurhayanti, gejala klinis pecahnya aneurisma otak yang melebar ditandai sakit kepala hebat disertai muntah-muntah, penurunan kesadaran dan lumpuh salah satu sisi tubuh.
Terapi kliping, koiling dan konservatif dilakukan terhadap penderita stroke pendarahan akibat aneurisma otak.
Kliping atau pembedahan mikro dilakukan dengan menjepit leher aneurisma guna mencegah pendarahan di dinding otak, sedangkan koiling dengan memasukkan kateter lewat arteri di lipatan paha ke titik aneurisma dan tindakan konservatif diambil jika ukuran aneurisma kurang dari dua milimeter atau di titik yang sulit dijangkau.
Gejala Aneurisma
Sedangkan dokter Merianti dari laman alodokter.com menyebutkan, tanda-tanda aneurisma membesar sehingga menekan otak a.l. nyeri sekitar mata, sulit bicara, keseimbangan dan penglihatan terganggu karena kelopak mata turun, sulit konsentrasi dan lumpuh salah satu sisi wajah.
Saat aneurisma otak pecah, gejalanya antara lain mual dan muntah, leher kaku, penglihatan kabur atau ganda , pusing parah, hilang keadaran, sensitif pada cahaya dan lumpuh salah satu sisi tubuh atau tungkai.
Aneurisma otak terjadi saat dinding pembuluh darah melemah atau menipis, penyebabnya belum dapat dipastikan, walau beberapa faktor diduga dapat melemahkan dinding pembuluh darah.
Selain akibat darah tinggi, aneurisma juga lebih banyak menyasar perempuan berusia di atas 40 tahun, orang dengan riwayat cedera kepala, kondisi medis bawaan seperi ginjal dan bukan bawaan seperti pengerasan arteri atau penurunan kadar estrogen pasca menopause.
Penyakit kadang-kala tidak bisa dihindari, tapi dengan mengenalinya, diharapkan faktor risiko bisa ditekan atau ditangani lebih cepat.




