CAPRES Prabowo sering mengatakan, Indonesia belum sepenuhnya merdeka jika masih ada orang miskin. Ketum Gerindra itu juga pernah bilang, sehebat apapun negara jika tidak memiliki kecukupan pangan maka akan hancur dan rakyatnya mati kelaparan. Karena itulah Prabowo sangat konsen dalam urusan pemenuhan pangan. Benarkah demikian? Faktanya, dipercaya Presiden Jokowi Jokowi untuk menggarap Food Station (Lumbung Pangan) di Kalimantan Tengah, proyeknya Kemenhan itu banyak yang gagal panen.
Agak aneh memang, Kementrian Pertahanan kok ikut-ikutan mengurusi proyek pengadaan pangan. Alasan Presiden Jokowi ternyata, pertahanan wilayah juga berkaitan dengan ketahanan pangan. Di sini baru nyambung dengan apa yang pernah dikatakan Prabowo, bahwa sehebat apapun negara jika tidak memiliki kecukupan pangan maka akan hancur dan rakyatnya mati kelaparan.
Kesimpulannya, ketahanan pangan berhubungan erat dengan pertahanan negara. Bila disederhanakan, tak bisa berjuang mempertahankan negara jika masih kelaparan. Ini sama persis dengan slogan kawula muda: tak bisa menikmati cinta dengan perut kosong. Ini juga benar, sebab bercinta itu juga memerlukan energi dan banyak membuang kalori. Bahkan kata iklan, nafsu besar tenaga kurang bagaikan kayu dimakan bubuk.
Ketahanan pangan juga menjadi perhatian serius di era Orde Baru, sehingga di bawah kepemimpinan Pak Harto Indonesia pernah berhasil berswasembada beras sekitar tahun 1984-1985. Di era Presiden Jokowi swa sembada pangan juga pernah terjadi pada 2019-2022. Produksi beras nasional pada 2019 secara konsisten berada di level 31,3 juta ton, dengan begitu Badan Pusat Statistik menghitung jumlah stok beras Indonesia per April 2022 berada di level 10,2 juta ton.
Presiden Jokowi juga memastikan bahwa pemerintah sudah menghentikan impor beras konsumsi sejak 2019. Salah satu pendorong penghentian impor beras adalah pembangunan bendungan dan irigasi di dalam negeri. Oleh karenanya jangan salah paham, jika Indonesia kini masih mengimpor beras, semata-mata itu beras untuk kepentingan industri.
Kamis besok adalah peringatan HUT RI ke-78. Sudah 78 tahun kita menjadi bangsa merdeka dan berdaulat penuh. Tapi jika merujuk ucapan Prabowo, kita belum merdeka sepenuhnya. Sebab data BPS menyebutkan, jumlah orang miskin pasca Corona mencapai 25,90 juta orang (9,36 persen) pada Maret 2023. Sayang BPS tak pernah mencatat, berapa ratus orang yang mendadak miskin gara-gara dimiskinkan KPK setelah ketahuan korupsi.
Tapi semiskin-miskinnya rakyat sekarang, tidak pernah ada orang antri beras sebagaimana di masa Orde Lama. Kini tak ada orang antri minyak tanah lantaran lenga latung –kata orang Banyumas– menghilang. Kalaupun minyak tanah kini tak ada, karena sengaja dihilangkan dan dikonversi ke gas elpiji di era pemerintahan SBY-JK (2006). Cuma ironisnya dan bikin rakyat bertanya-tanya, kenapa pengadaan gas itu ditangani oleh perusahaannya JK sendiri?
Berbahagialah generasi yang lahir di era Orde Baru sampai sekarang. Ketika perekonomian menggeliat lewat Pelita (Pembangunan Lima Tahun), tak ada orang kaliren (kelaparan), termasuk kalangan bocah. Makanan alternatip begitu banyak, tidak melulu beras dengan banyak turunannya. Pengin ayam goreng Macdonald atau Kentucky tinggal pencet HP, makanan datang sendiri. Kini di kota-kota kecamatan pun orang kulineran tiap malam cukup banyak.
Anak sekarang tak pernah rebutan hidangan undur-unduran (sisa) tamu, tak pernah pula nunggu kapan tamunya pulang. Melihat buah mangga atau kedondong jatuh dari pohonnya, anak sekarang tidak tertarik lagi. Padahal anak-anak sebelum tahun 1970-an, pagi-pagi sudah menyatroni bawah pohon mangga untuk mencari barangkali ada mangga jatuh. Kini di bawah pohon jambu banyak buah berjatuhan, bocah-cocah acuh saja.
Sebelum tahun 1970 pernah terjadi di Kecamatan Ngombol Kabupaten Purworejo (Jateng), sekelompok anak ABG dibawa ke kantor kecamatan gara-gara malam sebelumnya mencuri jeruk di rumah orang kaya. Pak Camat hanya bertanya, “Jeruknya kalian makan atau dijual?” Jawab mereka kompak, “Dimakan Pak!” Pak Camat langsung memerintahkan mereka pulang sambil menasihati, “Aja dibaleni maneh ya (jangan diulang lagi).” (Cantrik Metaram).





