Ketika Anak Sekolah Terlatih Peduli Lingkungan

Ilustrasi/Kompas

UNGARAN – Program Bank sampah berbasis sekolah di Desa Kalisidi, Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah telah dicanangkan sejak awal tahun dan hasilnya berbanding lurus dengan perubahan kondisi kebersihan sekolah dan lingkungan.

Bank sampah berbasis sekolah di Kalisidi ini sudah diterapkan di 10 sekolah, mulai dari taman kanak-kanak (TK) hingga sekolah dasar (SD). Bank sampah di tiap sekolah terdapat pegiat atau aktivis bank sampah yang bertugas menyosialisasikan, mengumpulkan, dan mengelola sampah plastik.

“Di tempat kami, program bank sampah ini diterapkan dikelas IV, V dan kelas VI. Hingga triwulan ini sudah terkumpul 188 kilogram sampah plastik terjual rp 276 ribu,” kata Tutiek, pegiat bank sampah SDN 01 Kalisidi dalam rapat Temu Rutin Kader Pegiat Bank Sampah Berbasis Sekolah, Selasa (26/4/2016), seperti dilansir Kompas.com.

Bahkan di salah satu sekolah yaitu di Madasah Ibtidaiyah (MI) Kalisidi II, sampah plastik menjadi media pembelajaran sekolah. Di sana ada ekstrakurikuler musik dari barang-barang bekas berbahan plastik serta pembuatan kriya berbahan dasar sampah plastik.

Selain itu, sekolah ini juga menerapkan siswa wajib membawa sampah plastik setiap hari Sabtu. “Setiap hari Sabtu siswa diharuskan bawa sampah plastik. Sekarang terkumpul 61 kilogram dengan harga jual Rp 91.500,” kata Maria, salah seorang pegiat Bank sampah.

Program yang telah berjalan sejak Januari 2016 ini telah lebih dulu sebelum pemerintah mencanangkan kebijakan kantong plastik berbayar pada Februari 2016, sehingga anak-anak sekolah di Desa Kalisidi sudah terbiasa mengurangi sampah plastik.

Advertisement