Ketika Mengemis Jadi Profesi

Pengemis di DKI
Ilustrasi: pengemis

DI sela-sela kampanye di Pademangan Kecamatan Penjaringan Jakarta Utara, Cagub DKI petahana Ahok Jumat lalu mengatakan, jumlah pengemis di Ibukota sudah menurun. Apa rahasianya? Sebelum dipulangkan ke daerah asalnya, mereka bikin pernyataan di atas meterai Rp 6.000,- bahwa bersedia dipidanakan manakala kembali jadi pengemis lagi di Jakarta. Agaknya para pengemis itu punya kalkulasi politik juga bahwa mengemis itu sekarang tidak lagi kondusif di ibukota negara, sehingga tak menjanjikan lagi dijadikan profesi.

Diakui atau tidak, mengemis selama ini memang sudah dijadikan profesi sekelompok orang yang minim penghasilan tapi minim juga rasa malu. Mereka mengadopsi pula prinsip dagang: modal sedikit untung banyak! Ke Jakarta sekedar siapkan ongkos bis barang Rp 75.000,- di Ibukota tinggal di “kluster” pengemis bilangan Kebon Singkong, Jatinegara (Jaktim). Sewa kamar sederhana sebulan Rp 300.000,- sedangkan sebulan mengemis rata-rata bisa menghasilkan Rp 18 juta tanpa Pph 15 %. Untung gede kan?

KPK dan para pendemo sekarang memilih hari Jumat sebagai hari istimewa. Jauh sebelum itu para pengemis sudah beranggapan bahwa Jumat merupakan hari penuh berkah. Lihat saja di kampung Krukut (Jakarta Barat), setiap Jumat pengemis bersliweran masuk ke kampung-kampung. Mereka membawa tas kecil, berbaju kumuh. Tapi asal tahu saja, semua itu sekedar pencitraan di kala blusukan di rumah orang-orang kaya. Bahkan belum lama ini terungkap, ada pengemis pura-pura berkaki buntung. Tapi ketika dipaksa Satpol PP untuk membuka kakinya, ternyata normal-normal saja bahkan bisa berlari.

Boleh percaya boleh tidak, di Kabupaten Indramayu (Jabar), ada sebuah desa yang 70 % warganya kaum pengemis. Ketika menggelar hajatan, pesta berlangsung sangat mewah dengan musik dangdut hingar bingar. Rumah mereka bak istana, bahkan ada yang dilengkapi kolam renang. Mereka punya “tambang emas” di Jakarta. Pernah dimuat di koran Ibukota, seorang kordinator pengemis punya mobil Honda CRV dan berpenghasilan 100 juta sebulan, jauh di atas gaji Kepala Dinas Sosial di Jakarta.

Dalam beberapa kali razia yang dilakukan Dinas Sosial dan Satpol PP, ditemukan sejumlah pengemis jutawan. Mukhlis (64) asal Sumbar ditangkap di Kebayoran Lama kantongi uang Rp 90 juta. Di Banjar Ciamis,  Cahyono (26) saat digeledah Satpol PP dari celananya yang banyak kantong itu ditemukan uang Rp 19,7 juta. Lalu Walang (54) dari Subang, di gerobaknya ditemukan uang Rp 25,5 juta. Luar biasa bukan? Hanya walang (belalang) kepala hitam yang bisa cari uang, meskipun dengan cara mengemis. Demikian menjanjikan penghasilan pengemis, lama-lama bisa kena TA (Tax Amnesty).

Mengapa sampah masarakat  itu sulit dibasmi? Jawabnya adalah, mereka itu pemalas yang sudah kehilangan rasa malunya. Enak memang, hanya dengan cara “kridha lumahing asta” (menengadahkan tangan), uang datang sendiri. Padahal jika mendengarkan pengajian di TV atau di mesjid kampungnya, mereka itu tahu bahwa ustadz sering kali mengutip hadits Nabi, “falyadi ‘ulya falyadi sufla (tangan di atas lebih mulia ketimbang tangan yang di bawah).”

Setiap Pemda punya aturan untuk mencegah pengemis, tapi masyarakat Indonesia yang tidak tegaan, selalu saja memberinya. Maka sekarang pengemis ini semakin nekad. Ada sekelompok pengemis secara rutin mendatangi perumahan, hanya menyapa tuan rumah “sehat Bu Haji” maka tangannya segera terisi uang barang Rp 2.000,- sampai Rp 5.000,- Padahal bisa saja tuan rumah belum haji, karena masih menunggu waiting list ke Mekah, yang berangkatnya tahun 2040 nanti. (Cantrik Metaram)

 

Advertisement