JAKARTA (KBK) – Tumpukan map yang dibawa Djaenal Mustaqim (26) hampir jatuh tercecer di lantai ketika ia sedang mengurus berkas kelengkapan BPJS untuk sepupunya yang sedang sakit typus di Rumah Sakit Persahabatan (RSP) Jakarta Timur.
Sambil duduk di ruang tunggu yang lengang Djaenal mengenang kisahnya yang juga pernah berobat menggunakan layanan BPJS. Menurut pria lulusan S1 Informatika dari sebuah Universitas Swasta di Depok, Jawa Barat itu pada akhir tahun 2015 lalu ia menderita sakit pada bagian perut.
Berharap ingin cepat mendapatkan penanganan secara medis Djaenal lantas mendatangi langsung RSPAD Gatot Subroto, namun BPJSnya ditolak karena menurut persyaratan yang ada penggunaan BPJS mesti dilengkapi dengan surat rujukan dari puskesmas domisili jika sakit tidak dikategorikan gawat darurat.
Setelah mendatangi puskesmas dengan harapan bisa mengantongi surat rujukan, Djaenal justru diperintahkan menjalani tes darah dan diberikan obat.
“Penggunaan BPJS tata caranya kurang sosialisasi kepada masyarakat, saya sebagai pengguna masih ribet mengurusnya. Saya tidak tahu kalau harus ada surat rujukan, begitu juga dengan cara pembayarannya. Kalau bayar pakai ATM terkadang suka tidak bisa, gagal mulu,” ungkap Djaenal kepada KBK, Senin (24/10/16).
Karena sakit yang di derita tak kunjung sembuh, Djaenal kembali ke RSPAD Gatot Subroto lengkap membawa surat rujukan dari puskesmas setelah tiga kali ia kembali ke pusat kesehatan masyarakat itu.
Setelah prosedur lengkap Djaenal mengaku semua biaya selama rawat inap, obat dan operasi pengangkatan empedu karena terdapat daging tumbuh ditanggung BPJS. Namun Djaenal masih menyayangkan antrian yang panjang ketika dirinya ingin melakukan ct scan.
“Untuk pasien BPJS ct scan mesti antri panjang, ditambah alatnya rusak. Kata pihak rumah sakit alatnya baru bisa dipakai 2 minggu kemudian. Bayangkan kalau ada pasien yang sakit parah,” tambah Djaenal.
Akhirnya Djaenal mengambil jalur reguler dengan merogoh kocek Rp 6 juta untuk melakukan ct-scan di rumah sakit Carolus.
“Pasien BPJS itu kan banyak harusnya sarana dan prasarana sudah siap, kalau begini jadi terlihat belum siap tetapi saya maklumi itu,” tutup Djaenal.





