Ketika Negara Lain Bicara Energi Terbarukan, Utusan Palestina Keluhkan Pasokan Listrik

Ilustrasi

BALI – Hampir seluruh negara-negara di Asia seperti Malaysia, Indonesia, Thailand, Mongolia, dan lain sebagainya mempertontonkan teknologi mutakhir energi terbarukan dalam pembangunan berkelanjutan selaras dengan target PBB pada 2030 untuk memenuhi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), pada Forum Parlemen Dunia untuk Energi Berkelanjutan, di Bali.

Namun berbeda dengan Bilal Qasim tidak bisa banyak menunjukkan kemajuan negaranya, Palestina. “Kita masih berusaha untuk mendapatkan listrik,” ujar Bilal

Ucapan Bilal menjadi kontras dengan pemaparan banyak anggota parlemen yang menunjukkan terobosan energi di negaranya masing-masing.

“Kalau di Palestina, listrik hanya menyala dua sampai lima jam sehari,” kata Bilal, yang membuat banyak anggota parlemen negara terdiam.

Sejumlah persoalan kini masih terus membelit Palestina. Kelaparan, kesehatan, pendidikan, dan energi masih menjadi persoalan utama akibat penjajahan Israel.

Pemerintah Palestina meluncurkan National Policy Agenda (NPA) pada tahun 2017-2022 di bawah slogan “Puting Citizens First”.

NPA meletakkan tiga pilar untuk masa depan Negara Palestina yakni jalan menuju kemerdekaan, reformasi pemerintah dan peningkatan layanan kepada warga, dan pembangunan berkelanjutan.

Namun tidak banyak yang bisa dicapai oleh pemerintah Palestina karena menurunnya bantuan kepada Palestina.

Dilansir Anadolu, Bank Dunia memperkirakan rakyat Palestina kehilangan USD3,4 miliar potensi pendapatan karena pembatasan Israel.

Advertisement