
JENEWA – Dana anak-anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) mengatakan setengah juta anak-anak berada dalam bahaya di ibukota Libya, Tripoli karena pertempuran..
Bentrokan yang pecah antara milisi saingan pada akhir Agustus telah menewaskan sedikitnya 115 orang dan melukai hampir 400 pada Sabtu malam.
UNICEF mengatakan lebih dari 1.200 keluarga mengungsi dalam 48 jam terakhir karena bentrokan meningkat di Tripoli selatan sebelum berhenti pada hari Senin (24/9/2018).
Jumlah total orang yang terlantar akibat pertempuran baru-baru ini di lebih dari 25.000, setengah dari mereka adalah anak-anak.
Direktur Timur Tengah dan Afrika Utara badan PBB, Geert Cappelaere, mengatakan anak-anak menjadi korban besar dan semakin sering direkrut oleh kelompok-kelompok bersenjata.
“Kami melihat anak-anak dicegah pergi ke sekolah, kami melihat anak-anak tidak memiliki vaksinasi yang sangat mereka butuhkan,” katanya dikutip AFP.
Mereka yang orang tuanya datang ke Libya dengan harapan bermigrasi ke Eropa lewat laut menderita dua kali lipat.
“Mereka sudah menghadapi kondisi hidup yang mengerikan, banyak dari mereka ditahan,” sebuah situasi yang diperburuk oleh kekerasan yang terjadi hari ini,” katanya.
UNICEF juga mengatakan penduduk menghadapi kekurangan pangan, listrik dan air, menambahkan bahwa bentrokan telah memperparah nasib para migran.
“Ratusan pengungsi yang ditahan dan migran, termasuk anak-anak, dipaksa pindah karena kekerasan. Yang lainnya terdampar di pusat-pusat dalam kondisi yang memprihatinkan, ”kata Cappelaere.
Meskipun ada gencatan senjata yang ditengahi PBB pada tanggal 4 September, pertempuran pecah lagi pekan lalu di distrik-distrik selatan ibukota.
Bentrokan itu terjadi antar kelompok-kelompok bersenjata dari Tarhuna dan Misrata melawan milisi Tripoli yang secara nominal dikendalikan oleh pemerintah persatuan yang didukung PBB.
Ibukota Libya telah menjadi pusat pertempuran untuk pengaruh antara kelompok bersenjata sejak diktator Muammar Qaddafi digulingkan dalam pemberontakan 2011 yang didukung NATO.
Pemerintah persatuan negara telah berjuang untuk menggunakan kontrolnya dalam menghadapi banyak milisi dan pemerintahan lawan yang berbasis di Libya timur.




