Ketika Parni Hadi Didaulat Jadi Dosen Tamu di UIN Gunung Djati Bandung

Hari menunjukkan pukul 10.00 Wib, Pagi, Selasa (23/2/2016). Kota Bandung terlihat cerah dan sinar matahari sangat tajam menyinari bumi Priyangan. Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Gunung Djati, Bandung, Prof. Dr. H. Mahmud, M.Si beserta Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Dr. Ahmad Sarbini, M.Ag bersama wakil rektor dan pejabat lainnya menyambut kedatangan Wartawan Senior dan Pendiri Dompet Dhufa Parni Hadi dan rombongan. Mereka menunggu di pintu rektorat kampus tersebut, berselang beberapa saat kemudian mobil yang ditumpangi Parni Hadi berhenti tepat di depan pintu itu.

Parni Hadi, Dr. Ahmad Juwaini (Presiden Direktur Dompet Dhuafa Filantropi) dan Ismail A. Said (Presiden Direktur Dompet Dhuafa Social Enterprise) turun dari Kijang Inova yang mereka tumpangi. Sang rektor dan jajaran pejabat teras kampus itu pun menghampiri dan menyalami Parni Hadi dan rombongan dengan senang hati. Selanjutnya mereka membawa rombongan itu ke ruang kerja rektor untuk berbincang-bincang.

Sekitar 15 menit perbincangan tersebut, Parni Hadi dan rombongan diajak menuju Fakultas Dakwah dan Komunikasi untuk menyampaikan kuliah umum. Sebagai wartawan senior dan pendiri media massa Islam Republika serta Dompet Dhuafa, ia didaulat untuk berbagi pengalaman tentang “Strategi Pengembangan Media Massa Islam di Indonesia”.

spandukparniDi atas pintu masuk dari Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN terpasang spanduk bertuliskan: “Selamat Datang Bapak Parni Hadi (Wartawan Senior dan Pendiri Dompet Dhuafa di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung.”

Kedatangan Parni Hadi disambut tepuk tangan riuh oleh mahasiswa fakultas tersebut. Apalagi ketika memasuki aula kuliah umum, yang sebelumnya sudah penuh dengan mahasiswa. Mereka sudah tidak sabar ingin mendengarkan wejangan dari Parni Hadi. Mereka terlihat sangat antusias dengan kuliah umum ini.

Beberapa dari mahasiswa sibuk dengan kamera TV dan kamera Foto, mereka sebagai mahasiswa Fakultas Dakwah dan calon-calon sarjana jurnalistik tidak mau ketinggalan momentum dalam kuliah umum tersebut. Mereka ingin merekam semua yang di curahkan wartawan senior itu untuk menjadi pedoman mereka sebagai seorang jurnalis nantinya.

“Pak Parni Hadi adalah tokoh, orang tua dan panutan kita dalam berbagai hal. Ia wartawan yang sekaligus inspirator dalam pemberdayaan masyarakat. Pengalaman-pengalaman beliau pantas kita tiru, sehingga kita tidak hanya menjalani profesi di bidang masing-masing, tapi juga menebar manfaat bagi banyak orang,”ungkap Rektor UIN Sunan Gunung Djati memberikan sambutan pembuka dari kuliah umum yang diadakan dalam rangka Dies Natalis UIN Sunan Gunung Djati ke-48 itu.

“Kami bersyukur, Pak Parni Hadi bersedia memberikan kuliah umum tentang strategi mengembangkan media Islam di kampus kami, mudah-mudahan pengalaman Pak Parni dapat menjadi inspirasi bagi kami,” tambah Dr. Ahmad Sarbani, M.Ag, Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi mengawali sambutan kuliah umum itu.

Kemudian suasana menjadi riuh ketika Moderator Drajat Wibawa, yang juga Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi, mempersilahkan Parni Hadi untuk tampil menyampaikan kuliah umum.

Hadirin menjadi tenang setelah menjawab salam dari Parni Hadi, kemudian mereka menyimak dengan seksama. Parni Hadi mulai bercerita tentang siapa sesungguhnya wartawan itu. Wartawan adalah orang yang mulia, ia mengemban amanah kenabian menyampaikan kabar gembira dan memberikan kabar peringatan.

“Jadi kalau ada wartawan yang amplop oriented, berarti dia telah menghinakan dirinya,” terang Parni.

Lebih lanjut Parni Hadi menjelaskan tentang media massa, yang terdiri dari 2 jenis; Media Massa Konvensional (TV, Radio, Cetak) dan New Media (media sosial).

Media masa kovensional, kata Parni Hadi, sudah hampir ditinggalkan orang, karena teknologi gadget membawa orang untuk menikmati informasi dengan cara baru, ia disebut media baru yaitu media sosial. Kehadiran media sosial ini sudah terbukti ampuh menggerakan massa audience-nya menjatuhkan beberapa rezim di Timur Tengah.

Hanya saja, media sosial ini, kata Parni, memiliki kelemahan dalam akurasi berita. “Ía terlalu cepat diviralkan sehingga tidak ada waktu untuk cek dan ricek,” jelasnya.

Jadi sewajarnya, lanjut Parni, media sosial hanya dijadikan pelengkap dari media yang sudah ada.

Media massa dalam pandangan Parni Hadi adalah lembaga yang padat otak, padat modal, teknologi, emosi, dan suara hati nurani. Karena itu pula, media massa tidak bebas dari nilai dan kepentingan (not value and interest free).

Informasi yang disampaikan media massa sarat dengan muatan nilai dan kepentingan ideologi, politik, ekonomi, sosial dam budaya. “Karena itu tidak jarang kita lihat media massa isinya disitir oleh pemilik modal, jajaran redaksi, mitra kerja seperti pemerintah dengan ideologi negara,” terang Parni.

Mengutip dari istilah Bill Gates, Parni Hadi mengatakan content is the king, (isi adalah raja), isi media massa tersebutlah yang akan membuat media itu diperhitungkan atau tidak oleh pembaca, pendengar atau penontonnya.

Mengenai media massa Islam, Parni Hadi menjelaskan, ia disebut media Islam sangat tergantung sudut pandang orang melihatnya. Namun Parni lebih cenderung mengatakan media massa Islam itu adalah media massa yang berbasis luas (broad based), bernafaskan Islam (Islami) yang ditujukan untuk umum (termasuk non Islam),  sebagai wujud Islam sebagai rahmat untuk seluruh isi alam (rahmatan lil alamin), untuk mencapai sebuah masyarakat yang berkeadilan (adil makmur) dan negara yang diberkahi Allah (baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur).

“Media massa Islam jangan sampai segmented, dia akan menjadi sempit, padahal media massa Islam adalah media dakwah sebagai media menyampaikan nilai-nilai Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW yaitu menjadi rahmat bagi sekalian alam, ”  jelasnya.

Untuk itu, strategi mendirikan media massa Islam itu, terang Parni Hadi,  diawali dengan penetapan visi dan misi, melakukan audience riset, menyiapkan SDM, menyiapkan modal, teknologi, meneliti ulang audience-nya ketika sudah berjalan, mengaudit SDM, menambah modal, menyesuaikan teknologi, menyesuaikan format tampilan, menyesuaikan isi dan melakukan reorganisasi demi 3 sehat: sehat organisasi, sehat redaksi dan sehat kekuangan.

hadirinpesertakuliahSetelah materi kuliah umum selesai disampaikan, masuklah sesi tanyajawab. Ternyata sangat banyak penanya yang ingin menggali lebih jauh tentang pengalaman Parni Hadi selama menjadi wartawan. Terutama mereka Mahasiswa Fakultas Dakwah yang menekuni jurusan jurnalistik. Mereka terlihat sekali ingin jadi wartawan dan menimba ilmu lebih banyak dari Parni Hadi.

Sayang, waktu tidak memungkinkan, dalam sesi tanya jawab tersebut hanya 6 penanya yang mendapat kesempatan. Tapi untuk melengkapi kuliah umumnya, Parni Hadi meninggalkan beberapa Buku Jurnalisme Profetik (Jurnalisme Kenabian) yang merupakan buku pengalaman atau best practise dari Parni Hadi sebagai seorang wartawan. Buku tersebut dapat menjadi inspirasi bagi setiap wartawan pemula dan senior, karena sarat informasi tentang jurnalistik yang dialami Parni Hadi selama ini.

Azan dzuhur berkumandang, acara kuliah umum itu ditutup dan hadirin pun membubarkan diri. Parni Hadi dan rombongan pun keluar dari ruangan untuk melaksanakan shalat, istirahat dan makan siang yang sudah disiapkan panitia. Seusai makan, diisi dengan meninjau beberapa lokasi milik UIN dan kemudian Parni Hadi berserta rombongan bertolak kembali ke Jakarta. *

Advertisement