Ketika Sarjana Cuma Rujakan

Ilustrasi: Ketika pesinden selalu menyindir: rujak rujak nangka, rujake para sarjana........

 

BAGI para penggemar musik karawitan Jawa, khususnya uyon-oyon atau klenengan, pasti akrab sekali dengan parikan para pesinden seperti ini: “Rujak…. rujak nangka rujake para sarjana, ya maaas!” Dan sekarang, telah tiba pada masa seperti itu, ketika para sarjana kita lebih banyak pada rujakan ketimbang bekerja. Bukan tidak mau bekerja, tapi memang tidak ada pekerjaan. Atau pekerjaan banyak, tapi para sarjana itu tak tahu bagaimana mencarinya.

Sebagai bangsa bekas jajahan Belanda, kita sedari kecil selalu dicekoki orangtua bahwa: mbesuk gedhe dadi priyayi. Menjadi priyayi itu adalah menjadi Pegawai Negeri, yang pekerjaannya ringan tapi uang belanja setiap bulan diterima secara rutin. Kecuali korupsi, rata-rata PNS memang tidak bergaji besar, tapi bisa dipastikan kelangsungannya tiap bulan. Lagi-lagi orang Jawa bilang, “Sithik-sithik angger nglethik (biar sedikit tapi berkelanjutan).”

Saat penduduk Indonesia baru puluhan juta, pola pikir semacam itu masih bisa diterima. Tapi ketika penduduk negeri ini sudah ratusan juta, pemikiran-pemikiran serba menina-bobokkan itu sudah tidak relevan lagi. Dengan populasi penduduk semakin tinggi persaingan pencari kerja menjadi semakin tajam. Mereka yang berpendidikan lebih tinggi akan lebih memenangkan persaingan untuk jadi priyayi. Sedangkan yang berpendidikan rendah jadi pekerja kasar, yang tiap hari makan pelas semayi (bothok ampas kelapa).

Sesuai tuntutan pasar, pendidikan tinggi itu bukan lagi hanya lulusan SMA atau SGA, tapi sarjana lulusan perguruan tinggi. Tapi lagi-lagi karena semakin banyak orang mampu menyekolahkan anak sampai perguruan tinggi, sedangkan pasar kerja tak berkembang, tak semua sarjana tertampung. Walhasil, sejak tahun 2000 banyak sarjana jadi penganggur, dan sejak itulah para pesinden semakin kencang menyindir: rujak nangka, rujake para sarjana. Gara-gara nganggur itulah para sarjana bisanya hanya rujakan.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada 2016 tercatat sebesar 5,5 persen. Tercatat tingkat pengangguran sarjana meningkat dari 5,34 persen pada Februari 2015 naik menjadi 6,22 persen pada Februari 2016. Faktor terkuat yang menyebabkan peningkatan pengangguran tersebut adalah masih banyaknya sarjana yang idealis dalam memilih pekerjaan. Mereka yang bangga dengan gelar kesarjanaannya, enggan untuk memegang pekerjaan kasar.

Penganggur terbuka adalah SDM yang benar-benar nganggur ngethekur (tanpa pekerjaan) tiada kegiatan sama sekali. Di rumah hanya petentang-petenteng tak ada aktivitas dan tak punya produktivitas. Sedangkan penganggur tertutup adalah, penganggur yang kepenganggurannya itu tertutup oleh aktivitas bantu-bantu istri di pasar, ternak teri alias antar anak antar istri. Banyak para suami demikian. Dan istri juga tak mempermasalahkan, karena yang penting malam hari nanti bisa “kerja” memuaskan istri.

Paling celaka, sarjana yang sudah bekerja pun, banyak juga yang bermental durjana. Busyro Mukodas saat menjadi Ketua KPK pernah mengingatkan, para pelaku korupsi di Indonesia rata-rata bergelar sarjana. Bahkan sarjana hukum, termasuk lulusan Akpol yang mustinya lebih tahu hukum.

Ironis jadinya, para sarjana hukum malah jadi orang hukuman. Tapi berdasarkan “kawruh begja”-nya zaman era gombalisasi ini, orang justru merasa begja (mujur) memperoleh harta banyak dan cepat, meski itu bukan hasil keringat sendiri. Dia takkan merasa berdosa ketika kekayaan instannya itu harus mendzolimi pihak lain. Ajaran agama yang mengatakan: laknatullah ala rosyi wal murtasyi (laknat Allah atas mereka yang menyuap dan disuap), hanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri.

Boleh saja mereka bergelar sarjana hukum. Tapi yang tahu hukum ini justru mempermainkan pasal-pasal dalam aturan hukum, untuk bisa diubah menjadi segepok uang. Ini dilakukan oleh para praktisi korupsi itu sendiri, lalu merembet para penegak hukumnya, dari lembaga peradilan, kejaksaan, kepolisian bahkan pengacaranya. (Cantrik Metaram)

Advertisement