SEBETULNYA nama dalang Ki Rusmadi sejak tahun 2000 sudah beredar. Tapi sama-sama berasal dari Kulon Progo (DIY), dan sama-sama menganut pakeliran gaya Yogyakarta, nama dia tenggelam oleh nama besar Ki Hadisugito yang sudah berkiprah sebelum tahun 1960. Baru setelah Ki Hadisugito tutup usia 9 Januari 2008, nama Ki Rusmadi mulai terangkat. Jika penggemar wayang kulit merindukan kehebatan Ki Hadisugito, Ki Rusmadi bisa menjadi pengobatnya. Sebab dia ini boleh dikata “titisan” atau duplikat Ki Hadisugito. Baik antawecana (narasi), suluk maupun humor dan lageyan (gerak gerik)-nya mirip dalang dari Toyan Kulon Progo tersebut.
Bila merujuk istilah kekinian, jika Ki Hadisugito ini KW-1, maka Ki Rusmadi KW-2-nya. Ibarat keramik lantai, natnya rapi cuma dalang pensiunan polisi ini maaf, ada gompil sedikit! Tapi tak apalah, semua makhluk Allah Swt tak ada yang sempurna. Tapi justru ketidaksempurnaan tersebut, dinamika kehidupan terus berjalan dengan segala pernik-perniknya. Faktanya, berkat kemajuan teknologi jagad maya, nama Ki Rusmadi mendunia, bisa ditonton orang Jawa sedunia berkat Youtube.
Terus terang, penulis sendiri meski pengagum berat Ki Hadisugito almarhum, dengar nama Ki Rusmadi baru beberapa hari belakangan ini berkat Youtube. Dan menonton kiprah pakeliran Ki Rusmadi, rasanya seperti kembali nonton Ki Hadisugito ketika mendalang di Ancol Jakarta atau di Jl. Aceh Bandung dan Gedung Merdeka, Bogor, sekian puluh tahun lalu. Memang, asal tahu informasinya di mana Ki Hadisugito mendalang di Jakarta, pasti penulis tongkrongi sampai menjelang pagi. Bahkan pada Maret 1996 penulis pernah nanggap sendiri ketika mantu adik di Purworejo (Jateng).
Ki Rusmadi memang luar biasa, dia bisa menduplikasi Ki Hadisugito nyaris sempurna. Padahal meski bisa mendalang juga, anak-anak Ki Hadisugito sebagaimana Ki Sutono, Ki Wisnu dan Ki Sembodo, sama sekali tak ada yang bisa menduplikasi almarhum ayahnya. Sedangkan Ki Rusmadi yang beda DNA-nya, malah bisa dan mirip sekali. Menyimak komentar penonton Youtube, kebanyakan merasa terharu karena seperti menonton pakeliran Ki Hadisugito.
Humor-humor Ki Rusmadi tak jauh beda dengan Ki Hadisugito, paling demen nggarapi atau ngerjai niyaga sendiri. Dia juga sering ikut tertawa atas lelucon bikinannya, atau menoleh ke kanan dan ke kiri sepertinya menonton hilir mudiknya para tamu yang kondangan. Begitulah lageyan Ki Rusmadi yang mirip benar dengan Ki Hadisugito. Kata-kata khas Ki Hadisugito juga sering dipakai Ki Rusmadi, misalnya: koleman (kelompok), cumondok (tempat) dan cukla-cukli bremara sandi (mengasah hati dan budi dalam semangat mawas diri).
Tapi meski menduplikasi Ki Hadisugito, suluk jejeran pertama Ki Rusmadi cenderung memilih pathet nem ageng Leng leng ramyang ningkang yang biasa dipakai pada pakeliran gaya Surakarta. Padahal Ki Hadisugito sebagai suhunya pedalangan gaya Yogyakarta, cenderung memilih Sri tinon ing pasewakan sebagaimana lazimnya pakeliran gaya Yogyakarta.
Dari sekian video Ki Rusmadi yang penulis cermati di Youtube, belum menemukan suluk Plencung setelah adegan perang kembang. Selesai perang kembang biasanya disusul dengan suluk yang berlirik: sri tinon ing pamiyat, tapi justru malah langsung suluk sangsaya dalu araras abyor sorot lintang kumedap karena menjelang Gara-gara. Ini bisa terjadi karena waktu hampir 2 jam dipakai untuk adegan limbukan di mana pesinden berjoged dan gojegan (berkelakar) bersama pelawak tamu dan dalangnya.
Di sinilah Ki Rusmadi nyebal (melenceng) dari tradisi mentornya. Ki Hadisugito sebagai dalang panutan gaya Yogyakarta, pantang limbukan model Surakarta, apa lagi pesinden sampai berjoged di samping dalang. Tapi hal ini harus dipahami, Ki Rusmadi terpaksa melakukan karena demi pasar. Artinya, selera penonton sekarang memang begitu. Limbukan dan Gara-gara menjadi yang utama, sedangkan cerita atau lakon wayang hanya pelengkap saja. Ini sama halnya dengan Ki Seno Nugroho yang keprak dan suluknya gaya Yogya tapi gamelannya dibikin campur aduk dengan gaya Surakarta.
Ki Radyoharsono dari Muntilan Magelang, juga mampu menduplikasi dalang Ki Timbul Hadiprayitno idolanya. Caranya, kaset wayang Ki Timbul diputar sampai 100 kali dan dicermati sedetil mungkin. Apakah Ki Rusmadi juga melakukan seperti itu? Tak diketahui pasti. Yang jelas sejak SD kelas III dia sudah menggemari dalang Ki Hadisugito. Karenanya sejak kecil dia sudah doyan wayang, apa lagi orangtuanya adalah penatah wayang terkenal dari Gadingan, Kecamatan Wates Kabupaten Kulon Progo.
Sebagai polisi Ki Rusmadi pangkat terakhir Iptu dan pernah menjadi Kapolsek. Tapi di sela-sela tugas bayangkara negara dia mampu menyempatkan waktu sebagai dalang. Buktinya dia pernah didaulat pentas sampai Nederland, AS dan Zimbabwe. Di negeri bilangan Afrika ini, bayaran Ki Rusmadi bisa mencapai ratusan miliar sesuai dengan satuan uang Zimbabwe. Tapi asal tahu saja, di Zimbabwe harga sebutir telur bisa sampai 1 miliar saking tak berharganya uang di sana akibat inflasi gila-gilaan.
Ki Rusmadi di era Presiden Megawati sekitar tahu 2003-an pernah menerima penghargaan dari pemerintah. Itupun belum jadi jaminan namanya menjadi terkenal. Baru setelah Ki Hadisugito mentornya berpulang dan disusul dengan kemajuan teknologi internet, namanya dirindukan orang Jawa penggemar Ki Hadisugito yang tersebar di seluruh dunia. Setelah pensiun dari Polri beberapa tahun lalu, Ki Rusmadi semakin sibuk sebagai dalang “titisan” Ki Hadisugito. (Cantrik Metaram)





