
TIAP negara tentu berbeda-beda kebijakan atau kiatnya menghadapi pandemi Covid-19, tergantung dari pemerintahan, budaya setempat, juga tingkat literasi dan kemakmuran penduduknya.
Negeri pulau, Singapura yang juga jiran Indonesia begitu pula. Setelah bergelut melawan pandemi Covid-19 selama 18 bulan sejak April 2020, pemerintahnya menyiapkan cetak biru untuk mencari jalan keluarnya.
Pertimbangannya, berangkat dari keyakinan, virus corona penyebabnya tidak bakal bisa dimusnahkan, tetapi akan tetap hadir menjadi endemik (seperti influenza), sementara warga harus dapat beraktivitas normal, berdampingan dengan Covid-19 tanpa perlu dikarantina atau dilockdown.
Endemik diartikan virus corona SARS-CoV-2 tetap ada di sekitar manusia penduduk bumi selama beberapa tahun ke depan atau jelasnya, wabah Covid-19 bakal terus terjadi dari waktu ke waktu.
Pada fase endemik pasca pandemik, jumlah orang terinfeksi biasanya relatif konstan selama bertahun-tahun, diselang-selingi sesekali musiman dengan peningkatan jumlah korban.
Vaksinasi adalah bagian yang dianggap penting sehingga Gugus Tugas Covid-19 Singapura menargetkannya bagi dua pertiga dari 5,7 juta total penduduk demi terciptanya herd immunity pada Agustus nanti.
Singapura akan meluncurkan “travel bubble” dengan negara-negara yang telah berhasil menangani Covid-19 seperti Hong Kong, Australia, Selandia Baru, dan Korea Selatan.
Begitu pula dengan para pekerja asing seperti asisten rumah tangga dan buruh konstruksi yang diharapkan balik lagi karena di tengah pandemi, sektor-sektor ekonomi yang sangat bergantung pada pekerja asing kewalahan karena kekurangan SDM.
Selanjutnya, acara-acara keramaian seperti perayaan Hari Kemerdekaan, pesta tahun baru, pertandingan olahraga, konser musik juga akan kembali digelar, sedangkan warga yang sudah divaksin dapat kembali berkumpul dalam jumlah besar tanpa harus menjaga jarak.
Cabut Lockdown
Singapura juga sudah mencabut kebijakan lockdown parsial sejak 16 Mei secara bertahap mulai 14 Juni, sementara fokus penanggulangan Covid-19 akan dialihkan pada penderita dengan gejala berat terutama yang dirawat di ruang intensif.
Warga dapat kembali berkumpul bersama maksimal lima orang dan bersantap bersama maksimal dua orang.
Singapura sempat diguncang infeksi Covid-19 varian Delta akhir April lalu setelah sebelumnya selama 10 bulan, angka infeksi konsisten mendekati nol.
Angka kasus komunal Covid-19 saat ini konsisten antara 10-20 kasus per hari dengan klaster terbesar berasal dari Pasar dan Pusat Makanan Bukit Merah di Singapura Tengah.
Total kasus Covid-19 di Singapura 62.530, 143 pasien atau 0,23 persen korban masih dirawat di RS, 170 orang atau 0,27 persen dalam pemulihan di fasilitas isolasi, sementara yang meninggal 36 orang (0,06 persen) atau salah satu yang terendah di dunia.
Berbeda dengan Indonesia yang saat ini sedang bergulat melawan lonjakan Covid-19 yang sedang menuju puncak dengan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat(PPKM) Darurat, semacam lockdown se-Jawa dan Bali.
Tidak seperti Singapura, RI dengan 271 juta penduduk dari ragam adat dan budaya, tingkat ekonomi, literasi ditambah lagi lemahnya penegakan hukum, kadang-kadang inkosistensi dan beda pemahaman dan orietnasi di kalangan pejabat, membuat upaya penanganan Covud-19 jauh lebih rumit. (Kompas.com/ns)




