
MONTHLY Chosun, majalah bulanan yang terbit di Korea Selatan menduga ada indikasi telah terjadi upaya penggulingan kekuasaan terhadap pemimpin tertinggi Korea Utara Kim Jong-un baru-baru ini.
Indikasinya, seperti dilaporkan Monthly Chosun, terkait aksi pembakaran terhadap sejumlah kendaraan pengawal Presiden Kim yang sedang mengangkut material bangunan rumah mewah yang diselundupkan dari China melalui transportasi laut.
Kapal tersebut tiba di Pelabuhan Dongyang 4 Juli lalu dan material bangunan itu rencananya akan diangkut dengan pengawalan tujuh kendaraan, namun dalam perjalanan, kendaraan terakhir dilaporkan dibakar bersama suplai barang-barang pesanan Kim Jong-un.
Sebelumnya, Kim dilaporkan oleh media corong resmi pemerintah, Rodon Sinmun dalam editorialnya mengingatkan jajaran birokratnya tentang kesetiaan mereka pada negara.
Peringatan itu dilontarkan setekah ia melakukan pembersihan terhadap puluhan pejabatnya yang dianggap gagal mengatasi krisis pangan.
Jika tidak mematuhi disiplin, Rodong Sinmun menyebutkan, para pejabat yang tidak disiplin adalah para “pecundang revolusi.”Berbuat kesalahan masih bisa dimaklumi, tapi jika sampai menyengsarakan rakyat, negara dan partai adalah perbuatan yang tak bisa diampuni,” ulasnya.
Krisis pangan yang terjadi di Korut, tulis harian Korsel Chosun Ilbo, membuat harga kebutuhan pokok melangit, misalnya kopi dibandrol setara Rp 1 juta sebungkus atau pisang Rp500-ribu per buah.
Dalam pidatonya di pertemuan partai pekan lalu, Kim memarahi pejabat yang dianggap penyebab krisis, salah satunya yang disingkirkan disebutkan anggota elite dewan politbiro yang beranggotakan lima orang termasuk Kim.
Selain akibat topan tahun lalu, krisis pangan di Korut dipicu oleh embargo yang dikenakan AS dan sekutunya akibat uji-ujicoba-nuklir dan rudal balistik yang dilakukan, diperparah dengan penutupan perbatasan dengan China guna mencegah penyebaran Covid-19.
Absennya Kim di depan publik dalam beberapa bulan terakhir ini juga memunculkan spekulasi tentang nasib dan kesehatannya, begitu pula kondisi fisiknya yang lebih kurus membuat kawan dan lawannya menduga-duga apa yang terjadi.
Ketertutupan memunculkan spekulasi tentang apa yang terjadi di Korut, termasuk klaim otoritas setempat, negaranya “Nol kasus penyebaran Covid-19” sampai kini.
Korut diduga juga pernah mengalami krisis pangan hebat yang merenggut ratusan ribu warganya pasca runtuhnya Uni Soviet pada dekade 1990-an, walau peristiwa ini juga sulit dikonfirmasi.
Simpang-siur pemberitaan tentang Korut membuat orang menebak-nebak bagai mengisi teka-teki.
Pemimpin Korut Kim Jong-un Dikudeta?
MONTHLY Chosun, majalah bulanan yang terbit di Korea Selatan menduga ada indikasi telah terjadi upaya penggulingan kekuasaan terhadap pemimpin tertinggi Korea Utara Kim Jong-un baru-baru ini.
Indikasinya, seperti dilaporkan Monthly Chosun, terkait aksi pembakaran terhadap sejumlah kendaraan pengawal Presiden Kim yang sedang mengangkut material bangunan rumah mewah yang diselundupkan dari China melalui transportasi laut.
Kapal tersebut tiba di Pelabuhan Dongyang 4 Juli lalu dan material bangunan itu rencananya akan diangkut dengan pengawalan tujuh kendaraan, namun dalam perjalanan, kendaraan terakhir dilaporkan dibakar bersama suplai barang-barang pesanan Kim Jong-un.
Sebelumnya, Kim dilaporkan oleh media corong resmi pemerintah, Rodon Sinmun dalam editorialnya mengingatkan jajaran birokratnya tentang kesetiaan mereka pada negara.
Peringatan itu dilontarkan setekah ia melakukan pembersihan terhadap puluhan pejabatnya yang dianggap gagal mengatasi krisis pangan.
Jika tidak mematuhi disiplin, Rodong Sinmun menyebutkan, para pejabat yang tidak disiplin adalah para “pecundang revolusi.”Berbuat kesalahan masih bisa dimaklumi, tapi jika sampai menyengsarakan rakyat, negara dan partai adalah perbuatan tak terampuni,” ulasnya.
Krisis pangan yang terjadi di Korut, tulis harian Korsel Chosun Ilbo, membuat harga kebutuhan pokok melangit, misalnya kopi dibandrol setara Rp 1 juta sebungkus atau pisang Rp500-ribu per buah.
Dalam pidatonya di pertemuan partai pekan lalu, Kim memarahi pejabat yang dianggap penyebab krisis, salah satunya yang disingkirkan disebutkan anggota elite dewan politbiro yang beranggotakan lima orang termasuk Kim.
Selain akibat topan tahun lalu, krisis pangan di Korut dipicu oleh embargo yang dikenakan AS dan sekutunya akibat uji-ujicoba-nuklir dan rudal balistik yang dilakukan, diperparah dengan penutupan perbatasan dengan China guna mencegah penyebaran Covid-19.
Absennya Kim di depan publik dalam beberapa bulan terakhir ini juga memunculkan spekulasi tentang nasib dan kesehatannya, begitu pula kondisi fisiknya yang lebih kurus membuat kawan dan lawannya menduga-duga apa yang terjadi.
Ketertutupan memunculkan spekulasi tentang apa yang terjadi di Korut, termasuk klaim otoritas setempat, negaranya “Nol kasus penyebaran Covid-19” sampai kini.
Korut diduga juga pernah mengalami krisis pangan hebat yang merenggut ratusan ribu warganya pasca runtuhnya Uni Soviet pada dekade 1990-an, walau peristiwa ini juga sulit dikonfirmasi.
Simpang-siur pemberitaan tentang Korut bagai membaca teka-teki.




