KINI kota Bandung telah menyaingi Jakarta. Biasanya yang jadi langganan banjir itu kampung-kampung di ibukota negara, tapi belakangan ini Bandung “solider” ikut-ikutan pula. BNPB memberitakan, setidaknya ada 20 titik wilayah Bandung Raya yang disapa genangan air, dari ketinggian sepenggaris (30 cm) sampai dua penggaris (60 cm), bahkan satu meter. Maka kota Bandung kini benar-benar telah “tercemar”, dari kota perjuangan “Bandung lautan api” menjadi kota pengungsian “Bandung lautan air”.
Paling “legendaris” adalah banjir di Jalan Pagarsih, kawasan Cibadak, Astana Anyar. Setelah banjir 25 Oktober, pada 13 Nopember 2016 berikutnya kembali air bah menyapa. Hebatnya, banjir ini cepat surut. Arus air itu begitu cepat, sehingga dalam 2 kali banjir, dua mobil dibuat wasalam tak berbentuk. Semoga saja itu bukan mobil cicilan, sehingga tak perlu mengangsur ke leasing meskipun barang sudah tiada.
Kata Ketua Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) Sudibyakto, banjir di kawasan Bandung terjadi akibat perubahan tata guna lahan dan tata ruang wilayah hulu DAS Citarum. Ini sama persis dengan wilayah-wilayah lain, gara-gara semrawutnya cara berfikir para pejabat pemangku kekuasaan. Karena iming-iming investor, para oknum pejabat begitu mudahnya mengubah peruntukan lahan. Mereka mau cari keuntungan.
Bertolak dari kepahlawanan Mohammad Toha, kota Bandung dikenal sebagai kota perjuangan. Pada 24 Maret 1946 para pemuda pejuang Bandung mempertahankan kota itu dari penguasaan Sekutu. Sejumlah prasarana penting dibumi-hanguskan, dan Mohammad Toha gugur dalam misinya menghancurkan gudang amunisi tentara Sekutu. Komponis Ismail Marzuki pun mengabadikan peristiwa itu dengan lagu “Halo-halo Bandung”.
Bandung memang banyak dikenang lewat lagu. “Walau kini jauh kutinggalkan, kota kembang yang selalu sangat kurindukan….,” kata Tety Kadi dalam lagu “Kota Kembang” di tahun 1967. Di tahun sekitar itu juga penyanyi Christine dari Solo, dalam lagu “Bandung di waktu malam” berdendang, “Kenangan datang lagi membayang, bila teringat Bandung di waktu malam…..” Bahkan sebelum tahun 1960, Iyar Wiyarsih menciptakan lagu “Mojang Priangan” yang sangat terkenal itu. Katanya, “Angkat ngagandeang, bangun taya karingrang, nganggo sinjang dilamban, mojang Priangan…..”
Sebutan Bandung sebagai “kota kembang” muncul sejak jaman Belanda, jauh sebelum Ridwan Kamil walikota “giman” (gila taman) itu lahir. Sebelum tahun 1900, alkisah ada pertemuan para pengusaha perkebunan di Bandung. Para Balanda kaya dari barbagai kota berkumpulah di kota itu dengan disambut para gadis cantik. Sejak itu muncul istilah “De Bloem der Indische Bergsteden” (Bunganya kota pegunungan di Hindia Belanda).
Meski tak lahir dan tinggal di Bandung, banyak orang mengenang kota itu karena radio. Tahun 1967-an, lewat gelombang SW 93 meter, siaran RRI Bandung bisa diterima juga di wilayah Jateng hingga DIY. Setiap Sabtu sore (pukul 17.00) RRI Bandung punya acara bernama “Pawai Popularia”, semacam tangga lagu-lagu yang diasuh penyiar Dady. Sampai tahun 1970-an RRI Bandung juga memiliki penyiar terkenal Baskara, yang kemudian menjadi Kepala RRI Jakarta (1988).
Bandung juga dikenal lewat makanan. Wajik Bandung sangat terkenal, meski sekedar nama, bukan asli made in Bandung. Dikemas dengan kertas transparan warna-warni, wajiknya kering dan rasanya sangat manis. Dalam musim Lebaran dalam masyarakat Jawa Tengah bahkan Betawi, wajik Bandung sering muncul sebagai hidangan untuk para tamu.
Peuyeum Bandung juga sangat terkenal. Rasanya manis, kesat dan mengasyikkan. Tapi maaf, jangan ditanyakan pada para lelaki hidung belang. Sebab kata mereka, yang mengasyikkan itu justru peyempuan! (Cantrik Metaram).





