JAKARTA – Guntur Amani, atlet difabel cabang olahraga renang andalan Kaltim sudah menjadi langganan meraih medali di setiap ajang kejuaraan nasional hingga internasional.
Kulitnya terbakar matahari, rambutnya dipotong agak cepak, berbadan sedang namun berotot. Tatapan matanya tajam, namun seperti menyimpan sejumlah permasalahan.
Seperti dilansir Tribun News (12/10/2016) Guntut bersama atlet difabel asal Kaltim lainnya berangkat ke Jawa Barat mengikuti Pekan Paralympic Nasional (Peparnas) XV 2016 Jawa Barat.
Di balik prestasi yang diraihnya, dengan suara setengah tertahan dan begitu emosional, ia membuka uneg-uneg mengenai persiapan dan permasalahan dirinya selama menjadi atlet Kaltim. Ternyata biaya latihan, biaya akomodasi, transportasi, peralatan, dan lain sebagainya harus ditanggung sendiri.
“Sudah lama saya ingin menceritakan masalah ini dengan wartawan, agar masyarakat atau pemerintah tahu bagaimana kami ini. Terus terang, persiapan ini, ada atau tidak ada kejuaraan atau pertandingan, seminggu saya latihan tiga kali,” kata atlet peraih medali 2 emas dan 1 perak di Asian Para Games Singapore 2015 di rumahnya, Jalan Selili, RT 44, Kelurahan Manggar, Balikpapan Timur.
Semuanya seakan menutup mata dan tak membuka hati nurani. Ya, seperti itulah yang dialami Guntur, pria yang tidak mempunyai tangan kiri sejak 2000 akibat kecelakaan mesin kapal ketika ia pergi melaut.
Untuk biaya latihan, dia terpaksa menggunakan uang tabungan dari bonus mendapatkan medali yang tak seberapa. Untuk menutupi biaya keperluannya sehari-hari, Guntur memilih bekerja lepas sebagai pembantu nelayan, profesinya dulu sebelum ia menjadi seorang atlet difabel.
National Paralympic Committee (NPC) Kalimantan Timur, kata Guntur, sebagai institusi resmi yang menaungi atlet-atlet provinsi seakan tak pernah memberikan perhatian terhadapnya.
“Keadaan kami ketika mendapatkan medali dan bonus belum pernah ada ditangan kami seperti uang saku, uang insentif, dan lain sebagainya. Kalau latihan pakai uang pribadi. Apalagi pas latihan di Peparnas ini. Tak ada perhatian dari NPC sendiri, baik yang provinsi ataupun kota,” tegas Guntur, yang pernah meraih medali 4 emas di Asian Para Games 2013 di Myanmar ini.
“Saya kerja lepas bantuin nelayan, antar ikan sana-sini, beli es batu untuk es ikan, pokoknya kerja lepas.” Ucapnya.
Sejak NPC lepas dari naungan KONI, semuanya begitu berubah. Uang insentif dan perhatian yang begitu besar dari KONI Balikpapan tidak pernah didapatkannya lagi.
“KONI Balikpapan itu sangat perhatian sama saya, namanya bonus, uang insentif per tiga bulan selalu diberikan. Ketika saya memecahkan rekor di Peparnas 2012 Riau saya dapat motor matic dari KONI Balikpapan,” ujarnya.
Saat ini, guntur tercatat sebagai atlet pelatnas cabang renang untuk persiapan Asian Para Games 2017 di Malaysia. Sebelum Peparnas XV 2016 dimulai, jauh hari sebelumnya ia ditawari ikut kontingen lain, terutama Jawa Barat. Di cabang renang Peparnas, Guntur mengikuti tiga nomor, yaitu nomor 50 m gaya dada, 100 m gaya dada dan 100 m gaya kupu-kupu.





