Bangunan putih dua lantai itu terlihat mencolok. Jendela-jendela berukuran besar dibiarkan terbuka lebar. Untuk memasukinya, kita harus melewati lorong berdinding tebal yang tersusun dari bata merah. Beberapa bagian dinding tersebut nampak gompal. Menguatkan kesan sejarah di dalamnya.
Tepat di sisi timur bangunan, rumput hijau membentang di atas tanah seukuran + 600 meter persegi. Di bagian tengahnya, terdapat patung seorang pria mengenakan long coats. Ia memegang buku yang terbuka. Itulah patung José Protacio Rizal Mercado y Alonso Realonda, yang lebih dikenal dengan Jose Rizal, salah satu tokoh bangsa Filipina.
Pria yang berprofesi sebagai dokter ini juga memiliki bakat seni yang luar biasa. Ia seorang penulis, musikus, arsitek, penyair, penulis drama, juga novelis. Namun, labih dari semua itu, ia patriot sejati. Ia memiliki banyak gelar, mulai dari “Kebanggaan Ras Melayu,” “Tokoh Besar Malaya,” “Tokoh Utama Filipino,” “Mesias Revolusi,” “Pahlawan Universal,” hingga “Mesias Penebusan.” Tanggal wafatnya, 30 Deseber diperingati setiap tahun dan dijadikan hari libur nasional Filipina.
Rizal dianggap terlibat dalam kegiatan-kegiatan pemberontakan terhadap penguasa kolonial medio 1892. Walaupun, sebenarnya sosok Rizal lebih pas sebagai pelopor sebuah masyarakat yang terbuka, bukan seorang pejuang revolusioner yang menuntut kemerdekaan politik, terlebih mengangkat senjata. Namun, ia dinyatakan terlibat dalam revolusi melalui hubungannya dengan para anggota Katipunan dan diadili di pengadilan militer dengan tuduhan pemberontakan, pengkhianatan, dan permufakatan.
Di bangunan putih yang dikenal sebagai Rizal Shrine itulah sejarah jelang kematian Rizal direkam. Bangunan putih itu merupakan tempat terakhir Rizal sebelum dieksekusi pada 30 Desember di sebuah lapangan, yang kini disebut the Martyrdom of dr. Jose Rizal.

Saat memasuki pintu utama, terpampang di dinding perjalanan waktu jelang eksekusi Rizal. Mulai dari penahanan, perjalanan menuju Manila, persidangan, hingga eksekusi. Di rumah itu pula terdapat diorama persidangan Rizal, termasuk surat pembelaannya di hadapan hakim. Ada juga benda-benda lain yang terkait dengan Rizal seperti seragam dokter yang dikenakan saat praktik, jam dinding milik keluarga yang menunjukkan waktu eksekusi, hingga tulang tengkorak bagian belakangnya yang tertembus peluru.
Di bagian ruang dalam juga terdapat kliping halaman muka koran “El Motin” bernomor edisi 28 yang menampilkan gambar eksekusi Rizal. Gambar serupa juga terdapat dalam lukisan berukuran 2×3 meter, meski dengan sudut pengambilan yang berbeda.
Ada dua aturan utama yang dipatuhi pengunjung ketika memasuki Rizal Shrine, tidak boleh menyalakan flash, serta dilarang mengenakan topi. Petugas akan langsung menegur pengunjung yang melarang aturan tersebut.
Rizal Shrine terletak di bagian dalam Fort Santiago, ujung utara kawasan Intramuros, yang berhadapan langsung dengan Sungai Pasig. Kawasan ini merupakan komplek eksklusif bagi kolonial Spanyol. Kawasan ini juga menjadi pusat pemerintahan gubernur jenderal yang menguasai Filipina.

Intramuros secara bahasa memiliki makna “di dalam dinding”. Itu sebabnya kawasan ini dikelilingi tembok yang membentang sepanjang 4,5 km. Total lahan yang berada di dalamnya mencapai 64 hektare. Di dalam kawasan ini terdapat rumah, sekolah, gereja, bangunan pemerintah, dan markas militer.
Intramuros sendiri dibangun pada abad ke-16 untuk berlindung dari ancaman bajak laut, lanun, maupun penyusup lainnya. Hanya orang Spanyol ningrat yang diperbolehkan tinggal di kawasan ini. Dulunya, Intramuros berhadapan langsung dengan Teluk Manila di bagian barat, dan Sungai Pasig di bagian utara. Namun, karena proses reklamasi, kawasan ini sedikit bergeser menjauh dari laut.
Di dalam kawasan Intramuros, kita masih dapat menemui bangunan-bangunan tua. Oleh karenanya, kawasan ini juga kerap disebut Old Town (kota tua). Bahkan, beberapa bangunan dibiarkan berlumut dan ada bagian-bagian yang hancur termakan usia. Objek-objek sejarah lainnya yang bisa dikunjungi adalah Puerta Real, sebuah bangunan istana untuk acara-acara kenegaraan. Bangunan ini terletak di ujung selatan, dekat dengan Rizal Park. Selain itu ada pula Bahay Tsinoy, Gereja Katedral Basilica, juga Plaza San Luis.
Beberapa bagunan di dalam kompleks ini ada yang sudah beralih fungsi menjadi hotel, restauran, maupun kantor dan bank. Untuk setiap kawasan, memiliki ketentuan tarif yang berbeda. Ada yang gratis, ada pula yang bayar. Untuk masuk ke Fort Santiago tempat museum Rizal (Rizal Shrine) misalnya, tiap pengunjung harus merogoh kocek sebesar PHP 50 (IDR 15.000) untuk pelajar dan anak-anak, serta PHP75 (IDR 22.500) untuk umum dewasa.
Menyusuri Intramuros membuat kita serasa memasuki mesin waktu. Kita bisa mengabil hikmah dari setiap peristiwa yang terjadi di dalamnya, termasuk patriotisme dan kepahlawanan Jose Rizal. [Amirul Hasan]





