JAKARTA – Hampir terenggutnya nyawa Ghina Wadi, anak perempuan berusia 10 tahun di kota Madaya seolah menjadi gambaran brutal dan bentuk kekejaman perang di Suriah yang tak pandang bulu dalam memakan korban. Madaya, 47 kilometer barat laut Damaskus, sudah lebih dari satu tahun dalam blokade pasukan pemerintah Suriah.
Pada awal Agustus lalu, Wadi berkisah ketika ibunya sakit keras dan butuh obat-obatan. Bersama adiknya yang berusia 8 tahun, Wadi keluar rumah untuk membeli obat-obatan untuk ibunya. Ketika dirinya mendekati pos pemeriksaan, sebuah peluru tiba-tiba menerjang kaki kirinya. Diketahui peluru tersebut merupakan milik penembak runduk Hezbollah.
“Kami pikir itu peluru dari psaukan Hezbollah. Kota Madaya saat ini tengah dibawah kontrol pasukan Damaskus, jadi mungkin mereka adalah pasukan pro pemerintah atau Hezbollah penembaknya,” kata Neil Sammonds, peneliti Amnesty Internasional di Suriah kepada Al-Jazera.
Dengan kondisi kaki terluka, Wadi dilarikan ke rumah sakit darurat di Madaya. Apa daya, akibat terkepung perang rumah sakit itu tak dilengkapi obat-obatan dan peralatan medis yang mumpuni. Dengan penanganan seadanya Wadi hanya diberi obat pereda rasa sakit sementara.
Kondisi Wadi kian terlunta-lunta, pikiranya pun bercampur aduk dengan kondisi ibunya yang juga tengah menanti pengobatan. kendati Aparat medis merekomendasikan agar ia dirujuk ke rumah sakit di Damaskus atau Lebanon namun dengan kejam pemerintah Suriah melarangnya dan bersikeras untuk tetap tidak mau membuka blokade.
Untuk menggedor perhatian Internasional, Amnesty membuat petisi daring, menekan pihak-pihak yang terlibat konflik di Suriah seperti Amerika Serikat dan Rusia agar Wadi bisa dievakuasi ke Damaskus. Dalam beberapa hari terkumpul 5.000 penanda tangan.
Akhirnya, baru pada pertengahan Agustus Wadi dan ibunya bisa dievakuasi ke rumah sakit di Damaskus melalui tim Bulan Sabit Merah Arab Suriah. Buruh waktu 11 hari setelah penembakan untuk mengevakuasi seorang bocah.
Kejadian yang menimpa Wadi merupaka sebagian kecil potret brutal dan kejamnya perang Suriah. Perang yang sudah menewaskan lebih dari 280.000 orang dan belum diketahui kapan akan berakhir.





