Kita Semua Bersaudara

Ilustrasi/Ist

MENGANTISIPASI demo 4 November 2016 jangan sampai meluas ke mana-mana, sebelum hari H Pemprov DKI telah sebar spanduk ke berbagai penjuru kota dan perkampungan. Judulnya adalah: “Kita semua bersaudara”. Pendek pesan itu, tapi sangat bermakna. Dan alhamdulillah, meski terjadi sedikit kerusuhan di penghujung demo, tapi semuanya bisa dikendalikan. Jika pinjam istilah pejabat Orde Baru dulu: situasi mantap terkendali. Damai di langit, damai di bumi. Damai itu indah kata Kodam Jaya, tapi juga kata seluruh rakyat Indonesia dan masyarakat dunia.

Semangat persaudaraan itu memang menjadi milik bangsa sedunia, sebab jika menilik ke sejarahnya, kita semua adalah keturunan Nabi Adam As. Awalnya Nabi Adam – Siti Hawa diturunkan Allah SWT di surga. Tapi gara-gara iblis yang mengintervensi kebijakan Illahi, Adam-Hawa tergoda buah kuldi, dan akhirnya diturunkan ke bumi.

Apesnya, iblis ikut diturunkan pula ke bumi, sehingga mulai rusaklah isi dunia, karena banyak umat di bumi terpedaya bujukan mautnya. Allah kemudian menurunkan para nabi dan rosul. Tapi tak semua mau mengikuti petunjuknya. Bahkan Kan’an putra Nabi Nuh, berani beroposisi pada ayah sendiri. Maka hingga yaumul akhir nanti, kebenaran kontra kebatilan akan selalu berjalan beriringan.

Untuk membangun persaudaraan dunia –meskipun terlambat– pasca Perang Dunia II lahirlah United Nation atau yang lebih kita kenal sebagai PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa) pada 24 Oktober 1945. Tapi faktanya, meski sudah ada PBB dunia tak pernah bebas dari permusuhan dan peperangan antar negara. Sekjennya dari Trygve Lie (1946-1952), U Thant (1961-1972), hingga Ban Ki-moon –yang namanya mirip orang Betawi– sekarang; capek dia mengingatkan untuk bersatu dan bersatu, karena bom dan peluru terus saja meletus dan berdesing.

Pertempuran boleh terjadi di sana sini, tapi alhamdulillah bangsa Indonesia bisa aman damai berkat Pancasila. Sila-sila dalam dasar negara kita memang kental dengan semangat persaudaraan, persatuan dan kegotong royongan. Karenanya, meski ada pihak-pihak yang hendak menyeret-nyeretnya ke Timur Tengah, kita tetap hidup aman tenteram di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, dan juga wilayah RI lainnya dari barat (Sabang) sampai ke timur (Merauke).

Qur’an juga telah mengingatkan: Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu…..(Surat Ali Imran ayat 103). Coba, andaikan kita semua berpegang pada Qur’an, semua akan tenteram damai. Tapi karena pengaruh iblis dan setan, kitab Qur’an ketika dalam bentuk proyek Kementrian Agama, ada juga yang mengkorupsinya.

Persaudaraan dan kegotongroyongan memang bagaikan mur dan baut, tak bisa dipisahkan. Ketika bermasyarakat, kita mau bekerja bakti bersama Pak RT, juga karena merasa bersaudara dengan para tetangga. Kita selalu silaturahmi dengan tetangga, juga untuk memelihara persaudaraan dan pergaulan. Tapi lagi-lagi karena setan, kadang niatnya sekedar bergaul dengan tetangga, pada akhirnya ada pula yang menggauli bini tetangga!

Karena semangat persaudaraan, orang Batak nampak kompak dan rukun ketika ada keluaga semarga meninggal. Masyarakat Jawa, demi mempertahankan alur keluarga, perkawinan dengan saudara jauh disebut ngumpulke balung pisah. Begitu pula orang Minang, mereka punya ungkapan: anak dipangku keponakan dibimbiang. Maknanya, demi persaudaraan lelaki Minang siap mengurus pendidikan keponakan.

Bagaimana dengan kisah-kisah keponakan dijadikan “penak-penakan”? Itu sih bisa terjadi di mana saja. Yang pasti, itu perilaku manusia-manusia yang bersaudara dengan setan. (Cantrik Metaram)

           

           

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement