Komando AS Diam-diam Bantu Saudi dalam Perang Yaman

Konflik Yaman yang sudah berlangsung tiga tahun sejak 26 Maret 2015 dan menewaskan 10.000 orang, yang diuntungkan hanya pedgang senjata, korbannya rakyat jelata.
NEW YORK – Sebuah laporan mengatakan AS telah memperluas perannya dalam perang berdarah Riyadh di Yaman dalam penjualan senjata dan dukungan logistik dengan secara diam-diam.

Mengutip para pejabat AS dan Eropa, The New York Times melaporkan Kamis (3/5/2018) bahwa sekitar 12 komando dengan Pasukan Khusus Angkatan Darat AS, yang dikenal sebagai Baret Hijau, telah dikerahkan pada Desember 2017 ke daerah perbatasan selatan Arab Saudi.

Misi rahasia, menurut laporan itu, ditujukan untuk membantu pasukan Saudi menemukan lokasi peluncuran rudal Yaman dan menghancurkan pasokan rudal dari gerakan Houthi, kekuatan militer de facto Yaman, yang telah membela negara itu, bersama dengan pasukan sekutu, melawan Agresi Saudi.

Laporan itu mengutip enam pejabat dari AS serta negara-negara Eropa dan Arab yang mengatakan dengan tanpa menyebut nama bahwa pasukan komando Amerika itu “melatih” pasukan darat Saudi untuk mengamankan perbatasan mereka dalam menghadapi serangan balik dari Yaman.

Pasukan khusus Amerika menggunakan pesawat mata-mata yang dapat mengumpulkan sinyal elektronik untuk melacak senjata di Yaman dan lokasi peluncuran mereka, para pejabat menambahkan.

Pasukan Saudi juga bekerja sama erat dengan para ahli intelijen AS di kota Najran, sebelah selatan Saudi, yang menjadi target beberapa serangan pembalasan Yaman.

Pengerahan itu berlangsung beberapa minggu setelah rudal balistik yang ditembakkan dari Yaman mengenai ibu kota Saudi, Riyadh.


Dengan dukungan kuat dari AS dan Inggris, rezim Saudi dan sekelompok sekutunya melepaskan kampanye militer melawan Yaman pada Maret 2015 dengan harapan menghancurkan gerakan Houthi dan mendirikan kembali sebuah pemerintahan yang sebelumnya ramah Riyadh.

Sementara itu, mengambil keuntungan dari perang Saudi di Yaman, Washington telah secara signifikan meningkatkan penjualan senjatanya selama beberapa tahun terakhir.

Sebuah laporan pada bulan Februari oleh Lembaga Penelitian Perdamaian Internasional Stockholm (SIPRI), Arab Saudi telah meningkatkan pembelian persenjataannya sebanyak 225 persen selama lima tahun terakhir, mengimpor 98 persen senjatanya dari AS dan negara-negara UE.

Penjualan senjata Washington ke Arab Saudi termasuk kesepakatan senilai 110 miliar dolar yang ditandatangani pada Mei lalu ketika Presiden AS Donald Trump mengunjungi kerajaan itu dalam kunjungan perdananya.

Selain keterlibatannya dalam perang Saudi, militer AS juga terlibat dalam misi terpisah di Yaman, di mana Washington telah melakukan serangan udara terhadap apa yang diklaim sebagai militan al-Qaeda, namun juga banyak mengorbankan nyawa warga sipil.

Advertisement