ORANGTUA cap apapun selalu mendambakan anak yang ganteng dan cantik. Tapi tak semuanya bisa memiliki. Tapi jangan pula, karena dikarunia anak cantik, lalu “dikomersilkan” macam keluarga Sofian, 55, dari OKU (Ogan Komering Ulu), Sumsel. Diberikan uang mahar emas 13 gram dan bantuan walimahan sebesar Rp 41 juta, eh ….malah dipakai beli sepeda motor. Calon mantu pun jengkel, meski tinggal sehari hari perkawinan itu, langsung dibatalkan dan gadis Aida, 28, menjadi 4 kalinya batal nikah.
Gadis Aida yang tinggal di Buay Runjang OKU memang termasuk gadis cantik di kelasnya. Tetapi entah kenapa, sudah dikabarkan hendak menikah sampai ketiga kalinya, pada akhirnya bubar sebelum hari H (akad nikah) alias dibatalkan. Sampai-sampai petugas KUA jadi ragu, ketika keluarga Sofian mendaftarkan putrinya untuk menikah, dalam hatinya membatin, “Ini bener-bener mau nikah nggak, jangan-jangan batal lagi.”
Tapi karena Aida putra Pak Sofian ini secantik Aida Mustafa penyanyi sebelum tahun 1970, masih saja best seller. Terakhir cowok yang terperangkap cinta pada Aida adalah Safrudin, 30, warga kota Palembang. Dia memang tidak tahu curriculum vitae Aida sebelumnya, sehingga ketika cintanya diterima tanpa reserve, pada Nopember 2022 lalu digelar lamaran, sekalian ditentukan hari perkawinan Safrudin melawan Aida pada 25 Desember 2022.
Kepada calon besan, keluarga Safrudin memberikan bantuan biaya walimahan sebesar Rp 35 juta, sementara maharnya emas 13 gram diserahkan sekalian. Bagi pihak perempuan, menerima bantuan walimahan sampai Rp 35 juta sebetulnya sudah lumayan banyak. Sebab dibantu hanya Rp 10 juta atau Rp 5 juta sekalipun, pasti hanya akan diterimanya dengan ucapan terima kasih. Tak etislah jika sampai protes, “Kurang dong!”
Keluarga Pak Sofian memang tak sampai sebegitunya. Cuma uang tambahan walimahan itu justru diambil sebagian untuk beli sepeda motor seharga Rp 30 juta. Dan tanpa malu-malu lagi minta tambahan biaya Rp 6.700.000,- Karena sudah kadung ngelamar, meski sebetulnya kecewa pada pihak calon besan, Safrudin kasih tambahan biaya lagi Rp 6 juta.
Padahal bagi orang kebanyakan yang selalu memegang teguh adat ketimuran, dapat bantuan walimahan berapapun jumlahnya ya diterima saja. Bahkan tidak dibantu sekalipun tidak tega untuk meminta, sebab sudah menjadi tradisi bahwa biaya resepsi menjadi tanggungan keluarga mempelai wanita. Apa lagi jika menikahnya di rumah.
Dua hari menjelang hari akad nikah Safrudin dan sang ibu ke rumah calon besan untuj cek lokasi. Bayangan mereka tenda pernikahan sudah dipasang mentereng, dengan dekorasi yang warna-warni menarik hati. Ya tidak perlu sementereng perkawinan Kaesang – Erina Gudono lah, tapi yang penting pantas. Bikin nyaman bagi para tetamu yang bakal hadir.
Namun apa yang terjadi? Di halaman rumah Aida tak ada tenda perkawinan yang didekor secara apik. Yang ada sekedar tenda biasa tanpa pernik-pernik, mirip tenda orang kesripahan. Kecewa sekali Safrudin beserta ibunya. Sebagai calon mantu, Safrudin hanya diam membisu, tapi si ibu yang penasaran segera mempertanyakan. “Kami sudah bantu Rp 41 juta, masak bikin tendanya begini?” protes ibu Safrudin.
“Ibu diam sajalah! Dibikin seperti ini juga sudah untung. Mana kekurangannya yang Rp 700.000,- “jawab ibu Aida dengan membentak. Ibunya Aida ini benar-benar kehilangan etika dan mestika. Kok tidak malu mempertanyakan kekurangan Rp 700.000,- Apa dia tidak sadar bahwa telah terjadi penggelapan atau korupsi biaya walimahan. Untung saja KPK nggak ngurusin orang mantu. Jika iya, Bu Sofian ini sudah layak menjadi tersangka.
Kaget dan tersinggung sekali Safrudin dengan mamaknya dibentak calon mertua. Dia memang cinta pada Aida, tapi Safrudin lebih mencintai orangtua. Memangnya stok wanita di Palembang sudah nipis? Maka saat itu juga Safrudin memutuskan perkawinan dengan Aida dibatalkan. Aida tinggal bisa meratapi nasib, untuk ke-4 kalinya dia batal nikah. Dan saking malunya keluarga Sofian, pada hari H perkawinan 25 Desember lalu, rumah mereka sudah kosong, entah ngumpet ke mana. (Cantrik Metaram)





