JAKARTA – Para perempuan petani Kendeng yang sering disebut sebagai Kartini Kendeng menurut Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan atau Komnas Perempuan harus menjadi inspirasi.
“Kartini Kendeng juga lahir karena perlawanan atas kekerasan infrastruktur di daerah. Gerakan kolektif perempuan Kendeng harus menjadi inspirasi bagi perjuangan gerakan perempuan di Indonesia,” ujar Wakil Ketua Komnas Perempuan Yuniyanti Chuzaifah, dalam rilisnya, Jumat (21/4/2017).
Gerakan perempuan ini terbentuk sebagai bentuk perlawanan terhadap pabrik semen di Pegunungan Kendeng, Rembang, Jawa Tengah.
Menurutnya, Kartini Kendeng merupakan sebuah simbol gerakan yang diambil dari perjuangan pahlawan Republik Indonesia Raden Ajeng Kartini dalam menentang pemiskinan.
Mereka tak lelah berjuang dari tahun 2014 untuk menentang eksploitasi sumber daya alam dan mereka lahir dari pemikiran spiritual Kartini, tentang alam, manusia dan Tuhan .
Mereka terlibat dalam upaya penyampaian keberatan telah dilakukan berkali-kali kepada presiden, menteri, gubernur jawa tengah, bupati-bupati di Jawa Tengah serta lembaga Hak Asasi Manusia (HAM).
“Beragam cara telah ditempuh untuk mempertahankan sumber kehidupan, dari menggunakan jalur hukum hingga menyemen kaki,” tegasnya.





