
KETIKA penulis membuka Mbah Google, tanpa sengaja nyandung topik tentang komunitas rambut gondrong. Rambut gondrong ada komunitasnya? Busyet dah! Lalu apa misi mereka, apa pula program kerjanya? Apa mereka mau memasyarakatkan gondrong dan menggondrongkan masyarakat? Ternyata oh ternyata, mereka sekedar minta pengakuan bahwa berambut gondrong tidak identik dengan kriminal, mereka juga bisa bersumbang sih bagi negeri tercinta.
Jika narasi penulis berbau sinis, mohon dimaklumi, karena penulis adalah bagian dari orang yang tidak suka rambut gondrong. Jika misalnya ada komunitas anti rambut gondrong, penulis siap direkrut jadi pengurusnya. Boleh Ketua Umumnya, boleh pula Sekjennya. Tapi ya mana ada, karena kelompok rambut gondrong bukan ormas yang harus didaftarkan ke Kementrian Hukum dan HAM.
Penulis jadi ikut-ikutan tak suka rambut gondrong, mungkin karena terpengaruh kebijakan pemerintah juga. Di masa ABG penulis sekitar tahun 1966, pemerintahan Orde Lama berkaitan dengan Trisakti-nya Presiden Sukarno, menindak tegas pelaku rambut gondrong, rambut sasak termasuk rok span. Di jalan-jalan kota Yogyakarta, polisi dengan guntingnya siap melakukan razia. Anak-anak muda yang berambut gondrong, cewek-cewek yang berambut sasak dan rok mekong (mepet bokong), langsung digunting di tempat.
Bahkan grup musik Koes Bersaudara dipenjarakan Presiden Sukarno karena musik ngak-ngik-ngoknya mempromosikan budaya Barat. Karena itulah penulis tak suka lagu-lagu Koes Bersaudara sampai Koesplusnya kemudian. Gara-gara ini pula, hingga sekarang penulis tak suka penyanyi Didi Kempot, dalang Sujiwo Tejo, Gus Miftah, Cak (Mbah) Nun yang baru saja kesambet. Satu-satunya praktisi rambut gondrong yang dapat “dispensasi” hanyalah mubalig Gus Muafik.
Betapa “sadis”-nya penulis sebagai pembenci rambut gondrong, adik penulis saat di SMP bikin pekerjaan tangan berupa patung tanah liat. Eh…., bagian rambutnya digondrongkan pula. Maka saat dia pergi, diam-diam patung lempung itu saya revisi di bagian rambutnya. Begitu tahu hasil kreasinya diintervensi orang, tentu saja adik saya marah-marah. Tapi bodo amat!
Saking bencinya rambut gondrong, saat penulis menjadi Pemred penerbitan majalah Jawa di Jakarta, saya menyeleksi calon awak redaksinya dari penampilan rambut pula. Masuklah satu nama dari Surabaya, yang digaransi oleh sastrawan Jawa-Indonesia beken dari kota itu. Belum lihat CV-nya langsung saya terima. Ee, begitu lihat orangnya, ternyata berambut gondrong mirip pemain bala dupakan WO Sriwedari Solo.
Mau menolaknya, saya tak enak hati. Untung saja kerjanya bagus, mrantasi gawe (pekerjaan beres). Cuma ketika dia minta diberi kesempatan untuk bisa wawancara berbagai tokoh, saya mengajukan syarat: potong rambutmu dulu! Karena dia tidak bersedia, ya sudah, penulis “pendem” di dalam. Tapi belakangan, dia potong rambut juga ketika sudah diterima jadi ASN dan mengajar di SMPN Trenggalek (Jatim).
Dalam keluarga, semua tahu penulis pembenci rambut gondrong. Maka ketika sulungku di umur ABG mau berambut gondrong, langsung saya batheli (dipotong acak-acakan). Pada anak perempuanku penulis juga wanti-wanti, awas kalau punya pacar rambut gondrong. Dan alhamdulilah anak menantuku berambut rapi!
Yang bikin penulis “tersiksa” sendiri, belakangan sepertinya populasi rambut gondrong semakin menjadi. Tetangga depan rumah, anak lelakinya berambut gondrong. Di mesjid tambah banyak jemaah muda berambut gondrong pula. Yang sering penulis gagal fokus, manakala salat berjamaah dan persis di depanku berambut gondrong. Saat rukuk, hilanglah pemandangan bikin “sepet mata” itu, tapi begitu takbiratul ihram, ee….ketemu lagi!
Tapi ya bagaimana lagi, rambut gondrong kan sekedar mode, tak mungkin pemerintah bikin UU atau Keppres melarang rambut gondrong macam jaman Orde Lama. Presiden Jokowi sendiri yang menjunjung tinggi “Trisakti”-nya Bung Karno, di masa mudanya juga sempat berambut gondrong.
Memang ada yang bilang, rambut gondrong hanya sekedar mode anak muda. Apa benar begitu? Faktanya sudah tua politisi PDIP Panda Nababan tetap berambut gondrong, juga Emha Ainun Nadjib. Bahkan budayawan Betawi Ridwan Saidi sampai meninggal juga berambut gondrong. Padahal rambut putih digondrongkan, bikin penulis ingat –maaf nih– kemoceng pembersih langit-langit rumah.
Yang penulis bingung, apa korelasinya antara rambut gondrong dan seniman? Sebab seniman pada umumnya selalu berambut gondrong, misalnya pelukis Afandi, penyair Sutardji Calzoum Bachri, Jadug Ferianto (sampai digelung). Tapi kenapa pelukis Teguh Santosa, pematung Nyoman Nuarta, tetap berambut rapi dan tampil necis?
Sampai-sampai penulis pernah bikin kesimpulan, asal berambut gondrong pastilah seniman. Padahal Pak Bon PGA Muhammadiyah tempat penulis sekolah di Yogya dulu, dibilang seniman lukis macam Afandi –yang mobilnya tiap hari lewat depan sekolah– kok tidak pernah pameran? Kalau pameran isinya hanya jajanan pasar bakwan, pisang goreng, ongol-ongol; agar dibeli murid-murid.
Tapi begitulah, sebenci apapun penulis pada rambut gondrong, bisanya ya sekedar berkeluh kesah dan curhat belaka. Nyatanya praktisi rambut gondrong semakin banyak, bahkan ada komunitasnya segala. Misalnya: KRGI (Komunitas Rambut Gondrong Indonesia), KRG (Komunitas Rambut Gondrong) doang, Komunitas Gondrong, GBT (Gondrongers Bandung Timur). Bayangkan jika mereka temu bersama, begitu banyaknya mereka, bisa bikin panik karena pelanggannya tambah menyusut.
Penulis juga heran, apa sih nikmatnya rambut gondrong? Baru rambut menyentuh telinga saja, rasanya sudah risih, kok ini bisa dibiarkan berkepanjangan. Jika mau rapi dan tidak penguk itu gondrongnya, harus rajin keramas pakai sampo. Padahal penulis rajin keramas hanya di masa-masa pengantin baru. (Cantrik Metaram).




