
INVASI Rusia ke negara tetangganya, Ukraina sejak 24. Feb. sudah memasuki hari ke-299 (Selasa, 11 Okt), namun belum ada tanda-tanda mereda, bahkan makin brutal, menyasar target non-militer.
Rusia paling tidak meluncurkan 75 rudal ke berbagai lokasi di Ukraina Senin (10/10) untuk merespons runtuhnya Jembatan Kerch (9/10) penghubung wilayah Krimea yang dicaploknya pada 2014 dengan Ukraina selatan yang baru dianeksasinya pekan lalu.
Jembatan yang amat vital sebagai jalur pasokan logistik, persenjataan dan pasukan Rusia untuk mendukung gerakan separatis Ukraina yang didukungnya tersebut tentu saja mejadi pukulan telak dan juga menampar wajah para petinggi Kremlin.
Di ibukota, Kyiv saja, paling tidak delapan orang tewas dan 24 lagi luka-luka akibat serangan Rusia tersebut, belum lagi di kota-kota lainnya yang sejauh ini laporannya belum masuk.
Serangan rudal kali ini, dilaporkan 40 diantaranya berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara Ukraina adalah yang terbesar dan dengan cakupan sasaran lebih luas dalam beberapa bulan terakhir ini.
Roket-roket dan rudal mengguyur kota Lviv, Ternopil dan Zaporiszhia di Ukraina Barat serta Dnipro dan Kremanjuk di Ukraina bagian tengah.
Lebih dari itu, Rusia tanpa ampun juga menghujani ibukota, Kyiv dengan rudal dan roket yang a.l. jatuh di pusat kota di Distrik Shevchenko, kawasan yang dipenuhi bangunan bersejarah dan juga kantor kantor pemerintah, jantung kota, lokasi parlemen dan tempat-tempat penting lainnya.
Beberapa rudal Rusia dilaporkan menghancurkan jembatan dekat area Busur Persahabatan di Kyiv, hanya berjarak sekitar 600M di timur laut Maidan Plaza dan 860 meter dari Istana Mariinsky yang dijadikan Kantor Kepresidenan Ukraina.
Makin Sengit
Di tengah seruan internasional agar kedua belah pihak menghentikan pertumpahan darah dan memulai dialog, pertempuran justeru semakin sengit, sementara korban terus berjatuhan.
Obsesi Presiden Putin untuk memenangi pertempuran, tercermin dari instruksinya untuk merekrut 300-ribu pasukan cadangan dan sukarelawan serta meningkatkan kapasitas industri persenjataan.
Sebaliknya Ukraina yang didukung AS dan Barat tampaknya juga makin “PD” untuk tak hanya melakukan perlawanan terhadap mesin perang raksasa Rusia, tapi juga mampu merebut kembali sejumlah wilayahnya yang diokupasi Rusia.
Presiden AS Joe Biden juga menegaskan kembali tekadnya untuk tetap mengirimkan persenjataan yang dibutuhkan oleh Ukraina guna mempertahankan diri dari agresi Rusia.
Selain dari AS, Ukraina juga menerima pasokan persenjataan modern dari Inggeris, Perancis dan Jerman serta negara-negara anggota Uni Eropa lainnya termasuk negara-negara eks Pakta Warsawa seperti Polandia, Ceko dan Slowakia.
Sebaliknya, bagi Rusia, perang berkepanjangan menguras daya tahan ekonominya, juga akibat embargo yang dikenakan AS dan Barat, bisa jadi juga munculnya ketidakpuasan di dalam negeri di tengah ekonomi yang makin sulit.
Aksi protes yang tidak biasa dilakukan di negeri dengan sistem komunis yang otoriter tersebut, sudah mulai muncul, juga aksi-aksi untuk menghindari perekrutan militer dengan hengkang ke luar negeri.
Yangg paling mencemaskan, jika Presiden Putin tidak mau kehilangan muka menyaksikan pasukannya terdesak dan nekad memerintahkan peluncuran rudal-rudal balistik berhulu ledak nuklir terhadap lawan-lawannya. (AP/AFP/Reuters)




