Koper Hitam Presiden Biden dan Putin

Ilustrasi Iring-iringan tank tempur utama T-90 Rusia di tengah konflik Ukraina. Pasukan Ukraina kewalahan menghaapi mesin perang raksasa Rusia yang kabarnya sudah mendekati ibukota, Kiev (26/2)

AKSI Rusia menginvasi Ukraina, tetangganya dan juga bekas sesama dari seluruhnya 16 negara sempalan Uni Soviet terbilang nekat, karena jika sampai  meluas atau bereskalasi, menyeret  Amerika Serikat dan sekutunya, bisa berujung malapetaka dunia.

AS dan Rusia saat ini adalah penguasa senjata nuklir global, belum lagi sekutu-sekutu AS seperti Inggeris dan Perancis yang juga memiliki arsenal senjata pemusnah massal itu.

Berdasarkan rilis resmi yang dikeluarkan Pentagon atau kementerian pertahanan,  AS sampai September 2020 memiliki 3.750 hulu ledak atau kepala nuklir (warhead), sudah berkurang jauh dibandingkan 31.225 buah pada 1967.

Kemlu AS sendiri (5/10) menyebutkan, pengungkapan arsenal nuklir yang dimilikinya, pertama kali sejak empat tahun terakhir, bertujuan mendorong upaya non-proliferasi atau  pembatasan kepemilikan senjata nuklir yang ditandatangani pada 1968.

Di era Presiden Trump, AS menarik diri dari sejumlah kesepakatan perlucutan senjata, mulai dari perjanjian nuklir Iran (2015), Intermediate-Range Nuclear Forces (INF) dengan Rusia (Des. ’87) dan New Start Treaty yang jatuh tempo 5 Feb. 2022.

Sebaliknya, Rusia menurut Bulletin of the Atomic Scientist, memiliki 4.497 unit stok hulu ledak nuklir, 1.600 unit diantaranya sudah digelar (strategic deployed) di silo-silo bawah tanah, pesawat pembom,  kapal perang dan kapal selam.

Jumlah tersebut sebenarnya sudah melebihi  batas Traktat Pengurangan Senjata Strategis (Nuklir)  atau Strategic Arms Reduction Treaty (START) antara AS dan Rusia pada 2018 sampai 1.550 unit yang berlaku hingga 2026.

Inspeksi tahunan oleh PBB untuk memverifikasinya tidak dilakukan sejaka 2020 akibat pandemi Covid-19.

Kehancuran Berlebihan

Bisa dibayangkan, dengan asumsi,  jika rudal-rudal balistik antarbenua yang ditembakkan lawan berhasil mencapai sasaran, kerusakan yang ditimbulkannya sudah melebihi kehancuran total.

Sebagai pembanding, bom atom yang dijatuhkan AS di Hiroshima, Jepang pada Perang Dunia II, 6 Agustus 1945, lalu tiga hari kemudian di Nagasaki (9 Agustus 1945) daya ledaknya jauh lebih kecil.

Kedua kota luluh lantak akibat bom dijuluki Little Boy berkekuatan 15 kilo ton dan 120 ribuan warga  Hiroshima tewas, sementara Fat Man (21 kilo ton) di atas Nagasaki, menewaskan 80 ribuan orang.

Bayangkan, ribuan hulu ledak nuklir yang dimiliki AS dan Rusia saat ini  kekuatannya rata-rata di atas 70 Mega Ton atau ribuan kali dari yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki.

Mungkin saja di medan sesungguhnya, kejadiannya tidak sedahsyat itu, karena nuklir walau merupakan senjata pemusnah masal dan mematikan, sistem penangkalnya juga terus berkembang.

AS misalnya mengembangkan rudal anti rudal Patriot yang terbukti ampuh digunakan Israel menaklukkan rudal-rudal balistik Scud buatan Soviet yang ditembakkan Irak pada Perang Teluk (1990).

Israel juga mengembangkan sistem pertahanan anti rudal Iron Dome (kubah Baja) yang diintegrasikan dengan sistem anti rudal Arrow, Patriot (buatan AS)  dan David’s Sling yang terbukti ampuh menahan ribuan roket yang diluncukan kubu Hamas, Palestina dan rudal balistik Scud Irak.

Ada pula sistem rudal anti rudal Aegis, juga buatan AS seharga 1,21 milyar dollar AS per unit (sekitar Rp17,2 triliun) atau yang terbaru sistem pertahanan di ketinggian  (Terminal High Altitude Area Defence – THAAD).

THAAD adalah sistem rudal anti rudal balistik jarak pendek, menengah dan jauh yang tidak berhulu ledak, tetapi mengandalkan benturan energi kinetik untuk menghancurkan rudal lawan.

Sistem anti rudal seharga satu milyar dollar per unit itu (Rp14,2 triliun) juga dioperasikan Israel, Arab Saudi, Korea Selatan dan Jepang,  berkecepatan sampai 8,2 Mach dan mampu memburu  rudal balistik pada ketinggian 150 Km dan jarak 200 Km.

Ukraina Kewalahan

Invasi Rusia ke Ukraina memasuki hari kedua (26/2) dan seperti diduga, mesin perang raksasa miliknya tidak terbendung dan kabarnya, kalau mau, dengan mudah sudah masuk ke ibukota, Kiev.

AS bersama NATO, seperti yang semula dijanjikan Presiden Joe Biden, tidak akan meninggalkan Ukraina sendiri melawan Rusia, membuat Ukraina kecewa, karena sampai hari ini belum melibatkan diri.

DK PBB dalam sidangnya, Jumat (25/2) gagal mengeluarkan resolusi mengutuk invasi Rusia karena hak veto yang dimilikinya sehingga  NATO tidak bisa mengintervensi (dalam hal ini membantu Ukraina) negara yang bukan anggotanya. Masalahnya menjadi lain, jika Ukraina sudah menjadi anggota NATO.

Perang belum usai, bantuan persenjataan yang mengalir dari  AS dan NATO pada pasukan Ukraina, paling tidak bisa memperlambat gerak maju pasukan Rusia untuk mencapai Kiev.

Rusia sendiri, di bawah tekanan dan sanksi int’l  terutama Barat, bakal menghadapi beban berat perekonomiannya yang pada gilirannya  bisa memicu stabilitas nasional, apalagi tak semua rakyat mendukung invasi ke Ukraina.

Sementara Presiden AS dan Rusia, di manapun berada, dikawal ajudan yang selalu di dekatnya,  menenteng koper hitam berisi tombol perintah perang termasuk untuk meluncurkan rudal-rudal balistik.

Saat tas dibuka, diperlukan autentifikasi pengguna atau password yang hanya diketahui presiden sendiri, pilihan menu opsi tindakan yang diambil, lokasi bunker dan Sistem Penyampaian Informasi Darurat (EBS).

Namanya presiden, manusia biasa. Bisa jadi, ia sedang kesal, berang karena kebijakannya ditentang parlemen, publik atau diabaikan bawahannya, sehingga menggunakan wewenangnya memencet tombol perintah serangan nuklir.

Bagi umat beragama, semua bisa terjadi atas kehendak Allah, tapi Juga fakta bila presiden AS dan Rusia berkontribusi besar memutuskan perang yang berujung penghancuran terhadap peradaban dan umat manusia.

Semoga konflik Ukraina tidak berlangsung lama, karena besarnya konsekuensi yang bakal ditanggung Rusia akibat tekanan int’l dan sanksi AS dan Barat  agaknya memaksanya kembali ke meja perundingan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement