Trump Ingatkan, AS akan Lancarkan Serangan Besar

Formasi pesawat pengebom dan pesawat tempur AU AS. Presiden AS Donald Trump mengaku siap melancarkan serangan besar-besaran ke Iran. (foto: USAF)

JAKARTA, – (KBKNEWS) – 24/7 – PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump mengaku, ia semakin dekat untuk memutuskan serangan yang belum pernah dilancarkan sebelumnya terhadap Iran.

Pernyataan ini disampaikan Trump dalam sebuah wawancara dengan Axios, Kamis (23/7). “Saya sedang mempertimbangkan serangan besar-besaran. Lebih besar dari sebelumnya.

Saya dekat untuk mengambil keputusan. Kami sudah siap untuk itu,” kata Trump.
Bersamaan dengan pernyataan tersebut, Kementerian Luar Negeri AS menghimbau warganya yang berada di Timur Tengah untuk bersiap menghadapi kemungkinan pembatalan penerbangan dan gangguan perjalanan udara lain akibat perang dengan Iran.

Sinyal kian dekatnya keputusan Trump ini muncul di hari yang sama dengan serangan kelompok Houthi terhadap dua kapal tanker minyak milik Arab Saudi yang tengah melintasi Laut Merah.

Dalam pernyataan yang diunggah di Telegram, Houthi menyebut pihaknya melakukan operasi militer yang menyasar dua kapal tanker minyak Arab Saudi yang melanggar blokade.

Kelompok yang berafiliasi dengan Iran itu juga menyebut nama kedua kapal tersebut, yakni Encelia dan Layla, sebagaimana dilansir Euronews. Kantor berita resmi Arab Saudi melaporkan adanya kebakaran di salah satu tanker di Laut Merah usai serangan tersebut.

Meski demikian, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam insiden ini. Data pelayaran mencatat setidaknya sembilan kapal tanker telah mengubah rute setelah pengumuman blokade Houthi, termasuk tiga kapal yang sebelumnya memuat minyak di terminal Yanbu, Arab Saudi, di pesisir Laut Merah.

Tutup Selat Bab-el Mandeb
Sebelumnya, awal pekan ini, Houthi mengumumkan telah menutup Selat Bab el-Mandeb bagi kapal-kapal yang berkaitan dengan Arab Saudi.

Langkah ini disebut sebagai balasan atas blokade Riyadh terhadap Yaman serta serangan baru-baru ini terhadap bandara internasional di Sanaa, ibu kota Yaman yang dikuasai kelompok pemberontak tersebut.

Penutupan Bab el-Mandeb dapat memaksa kapal-kapal mengambil rute memutar lewat Tanjung Harapan, menambah waktu tempuh dua hingga tiga minggu untuk pelayaran antara Asia dan Eropa.

Padahal, selat sempit yang menjadi gerbang menuju Laut Merah itu selama ini dilalui sekitar 12 persen perdagangan dunia, termasuk seperempat dari total lalu lintas kontainer global.

Trump ancam balas Houthi dan Iran Menanggapi serangan tersebut, Trump mengancam akan menjatuhkan “hukuman militer besar” kepada Houthi.

Melalui akun Truth Social miliknya, Trump menyebut AS akan meminta pertanggungjawaban Iran, karena Houthi dinilai sebagai proksi atau kaki tangan Teheran.

“AS akan meminta pertanggungjawaban Iran, karena Houthi adalah proksi dan atau kaki tangan Iran, dan hukuman militer besar akan dijatuhkan kepada Iran dan tentu saja Houthi sendiri,” tulis Trump.

Sebelumnya di pekan yang sama, Trump juga menegaskan AS akan “mengurus” Houthi apabila jalur pelayaran dan ekspor energi terancam oleh potensi blokade di Bab el-Mandeb.

Ahmed Nagi, analis senior urusan Yaman di International Crisis Group, menilai ancaman terhadap Arab Saudi turut menguntungkan Iran sebagai sekutu Houthi.
Terlebih, saat ini AS kembali melancarkan serangan udara setiap hari. Eskalasi Perang AS-Iran Merambat ke Suriah.

“Dari sudut pandang Iran, membuka titik-titik tekanan tambahan di kawasan ini memberi mereka lebih banyak pengaruh,” kata Nagi.

“Houthi memberi Teheran pengaruh atas salah satu titik strategis maritim terpenting di dunia,” lanjutnya.

Pihak Iran sendiri, terutama dari Garda Revolusi satua (IRGC) tidak bergeming atas ancaman AS dan terus meluncurkan rudal-rudal balisiknya ke berbagai afsilitas militer AS di Bahrain, Kuwait, Yordania bahkan Arab Saudi.

Houthi kuasai Yaman 2014
Houthi naik ke tampuk kekuasaan pada akhir 2014 setelah menyerbu Sanaa dan menguasai istana kepresidenan serta sejumlah instalasi militer penting, memaksa pemerintah Yaman mengasingkan diri.

Kelompok ini merupakan bagian dari jaringan yang disebut Iran sebagai “Poros Perlawanan,” yang turut mencakup Hizbullah di Lebanon, Hamas di Gaza, serta sejumlah milisi di Irak.

Meski tidak menguasai wilayah pesisir Yaman yang berhadapan langsung dengan Bab el-Mandeb, Houthi menguasai wilayah yang jaraknya kurang dari 100 kilometer dari selat tersebut.

Kelompok ini sebelumnya pernah menyerang lebih dari 100 kapal di Laut Merah pada puncak perang Israel-Hamas di Gaza, sebelum kampanye udara gabungan AS-Israel menghentikan rangkaian serangan tersebut pada awal 2025. (CNNI/ns)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here