Korban Gempa Afghanistan dan Pakistan Butuh Tenda dan Selimut

KABUL (KBK) – Tim respon gempa dan relawan mengingatkan warga Afghanistan dan Pakistan yang kehilangan tempat tinggal bisa fatal karena sudah 2 hari tidur di lapangan terbuka dalam kondisi cuaca ekstrim dingin. Mereka terpaksa tidur di luar karena takut gempa susulan.

“Ada kebutuhan mendesak untuk tenda dan selimut bagi mereka agar mereka dapat menghabiskan malam kedua di luar ruangan dengan aman,” kata Relawan.

Dikatakan relawan, saat ini Afghanistan dan Pakistan memasuki musim dingin yang ekstrim, dan kondisi ini tidak baik untuk anak-anak.

Seperti dilaporkan media Pakistan, ribuan orang menghabiskan malam dalam suhu yang mendekati beku, mereka enggan untuk kembali ke dalam rumah karena takut gempa susulan.

Setidaknya 375 orang diketahui telah tewas di kedua negara, namun para pejabat memperingatkan jumlah akan meningkat, khususnya di Afghanistan.

Badan PBB untuk Anak-anak UNICEF, mengatakan, kombinasi dingin dan rasa tidak aman akan melanda beberapa lokasi.

“Terutama dikawasan terpencil dan daerah pegunungan. Di sana sudah turun hujan deras dan salju selama dua hari terakhir,” ungkap UNICEF.

“Selain itu, komunikasi terputus dan akses menuju ke sana juga sulit karena medan yang rawan keamanan,” kata pernyataan itu.

Direktur Regional UNICEF untuk Asia Selatan, Karin Hulshof, sangat mengkhwatirkan keselamatan dan kesejahteraan anak-anak pasca gempa.

“Mereka berada dalam bahaya karena menghadapi suhu ektrim,” katanya seperti dikutip KBK dari BBC, Rabu (28/10/2015).

Di Pakistan dilaporkan setidaknya 5.000 orang kehilangan tempat tinggal di desa Lembah Kalash. Relawan dan bantuan belum dapat menjangkau mereka. Masih banyak orang-orang yang terjebak di bawah tumpukan puing-puing.

Di Afghanistan, gempa menghancurkan lebih dari 7.600 rumah, demikian data yang dirilis Kantor Presiden Ashraf Ghani. Dia telah memerintahkan militer untuk memberikan bantuan.

Advertisement