
JAKARTA (KBK) – Siang itu empat orang ibu-ibu terlihat duduk di pinggir jalan MT Haryono, Jakarta Timur. Bersanding dengan aliran Sungai Ciliwung dibawahnya tatapan mereka tampak kosong.
Sesekali salah satu dari mereka menggeser pandangan meratapi satu objek yang tak lain adalah reruntuhan puing bekas bangunan rumah mereka.
Ialah Sri Sentani Iriani (53), sejak alat berat milik Pemprov DKI Jakarta meratakan rumahnya pagi tadi, ibu 5 anak ini menjadi limbung. Kendati Sri telah mengantongi kunci Rusun Rawa Bebek namun ia mengaku tidak tahu mesti berbuat apa karena di rusun tersebut Sri tak dapat meneruskan provesinya sebagai pedagang makanan dan minuman ringan.
“Di Rusun saya sudah tidak kebagian ruko, semua habis. Kemungkinan saya akan kembali ke sini lagi untuk berjualan. Lebih enak tinggal di pinggir kali rejekinya banyak,” ucap Sri kepada KBK, Selasa (15/11).
Hal senada juga dilontarkan Ekowarti (49), ia menolak direlokasi dan lebih memilih membeli rumah lagi yang lahannya tak terkena proyek normalisasi Sungai Ciliwung. Ekowarti mengaku meski banjir telah menjadi tamu langganan tiap tahun namun ia merasa betah.
“Setiap tahun disini banjir bisa lima kali. Meski tidak hujan sekalipun banjir tetap datang. Tetapi saya tidak mau pindah karena sudah betah disini. Meski rumahnya kumuh tapi nyari duitnya gampang,” kata Ekowarti membela diri.
Dalam penggusuran tadi pagi sedikitnya 33 rumah semi permanen di bantaran Sungai Ciliwung sisi Cawang Jakarta Timur diratakan. Selama proses penggusuran tersebut Tutwurihandayani (52) merupakan salah satu pihak yang palik telak. Sedikitnya 20 pintu rumah kontrakan miliknya rata dengan tanah dan hanya diganti dengan 1 unit rusun.
“Meski dapat saya tidak ambil kunci. Saya mau ngontrak saja, nanti cari uangnya dipikirkan lagi,” jelas wanita yang akrab disapa Tuti itu.
Nuraini (50) korban gusuran lainnya juga mengamini perkataan Tuti. Menurut penduduk asli Cawang itu sistem ekonomi yang dibangun warga telah terstruktur secara kerakyatan dengan baik. Maka tak heran bila sebagian besar warga menolak relokasi karena di rusun warga tak dapat bekerja.
“Saya juga masih belum tahu akan bagaimana. Masih cari-cari tempat usaha. Tetapi kalau di rusun tidak mungkin, ” ucap wanita yang sehari-hari berjualan aneka kue basah itu.







