Korban kelaparan di Gaza tambah terus

Antrian panjang perempuan dan anak anak di Gaza untuk mendapatkan makanan akibat blokade oleh Israel sejak Maret lalu (foto: Reuters)

Pihak Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza melaporkan jumlah korban yang tewas akibat kelaparan karena blokade bantuan kemanusiaan yang dilancarkan Israel ke wilayah itu sejak Maret lalu bertambah pada Rabu (30/7).

Otoritas Gaza seperti dilansir Al Jajeera, Rabu (30/7)  mencatat tujuh kematian baru akibat “kelaparan dan malanutrisi” dalam kurun 24 jam terakhir.

Menurut data Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, total korban kelaparan akibat blokade Israel sejak Maret lalu mencapai 154 orang, 89 di antaranya masih berusia anak. Krisis kelaparan di Gaza semakin parah usai Israel menerapkan blokade total sejak Maret 2025 lalu.

Otoritas Israel sedikit melonggarkan blokade pada awal Mei, tetapi jumlah bantuan yang masuk dinilai tidak cukup menunjang kebutuhan warga Gaza.

Pihak Program Pangan Dunia PBB menyatakan, hampir 100.000 anak-anak dan perempuan di Gaza membutuhkan perawatan mendesak terkait malanutrisi.

Lembaga PBB itu pun memperkirakan sepertiga penduduk Gaza “tidak makan berhari-hari.”

Kelaparan juga memengaruhi tenaga kesehatan yang merawat pasien akibat malanutrisi atau korban luka serangan Israel. Rumah sakit-rumah sakit di Gaza pun kehabisan pasokan obat dan peralatan medis penting untuk merawat pasien.

Lembaga Euro-Med Human Rights Monitor memperkirakan jumlah korban sebenarnya akibat blokade Israel jauh lebih besar dari sumber resmi.

Lembaga hak asasi manusia itu menyatakan tim lapangan mereka telah mendokumentasikan “puluhan kematian” di kamp pengungsian akibat kelaparan, malanutrisi, atau kekurangan perawatan.

“Banyak dari kematian ini yang dicatat karena sebab alami. Pasalnya, tidak ada mekanisme pelaporan yang jelas dari kementerian dan kecenderungan keluarga untuk segera menguburkan kerabat,” demikian pernyataan Euro-Med Human Rights Monitor dikutip Al Jazeera, Rabu (30/7).

Sehubungan dengan tragedi kemanusiaan itu, Hamas kembali mendesak komunitas internasional menembus blokade di Gaza guna mengakhiri  “kelaparan yang diciptakan Israel.”

Organisasi Palestina itu menuduh Israel menjadikan pangan sebagai senjata untuk membunuh bangsa Palestina secara pelan-pelan.

“Kebanyakan truk bantuan dijarah dan diserang sebagai bagian kebijakan sistematis yang diambil penjajah (Israel). Sektor ini memerlukan lebih dari 600 truk bantuan dan bahan bakar per hari untuk memenuhi kebutuhan minimum,” demikian pernyataan Hamas.

“Jumlah bantuan yang diizinkan masuk ke Gaza oleh Israel jauh lebih kecil dibandingkan kebutuhan nyata,” imbuhnya, sementara PM Israel Benyamin Netanyahu  membantah, ada kelaparan I Gaza.

Israel salahkan Hamas dan PBB

Sementara itu, Israel malah menyalahkan Hamas dan PBB yang tidak berani menyalurkan bantuan, padahal, menurut dia,  Israel sudah membuat koridor aman yang bisa dilakukan PBB, walau pihak PBB berkilah, melalui koridor aman sekalipun, keselamatan tim pembawa bantuan tidak bisa dijamin.

Sementra Menlu Israel Gideon Moshe Sa’ar menganggap kebohongan laporan media internasional yang menyebutkan negaranya yang membuat kebijaksanaan agar terjadi kelaparan di Gaza.

“Realitasnya, kami sudah bekerja keras untuk memfasilitasi masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza, tapi dihalang-halangi kelopok tertentu, “ ujarnya.

Presiden AS Donald Trump yang acap dianggap berpihak pada Israel kali ini juga mengakui terjadinya kelaparan di Gaza sehingga dalam isu ini ia beseberangan dengan sikap mitranya, PM Israel Benyamin Netanyahu.Perbedaan di antara kedua tokoh yang sebelumnya saling dukung itu juga menambah kompleksitas permasalahan.

Sejak konflik di Gaza antara Hamas dan Israel pada 7 Oktober 2023, sudah sekitar 60.000 warga Palestina tewas, sebagian besar perempuan dan anak, 145.000 terluka.

Sementara itu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdoganpada Selasa menyoroti kelaparan di Gaza yang diblokade, yang telah menjadi sasaran serangan gencar Israel selama 22 bulan.

Ia mengatakan bahwa Gaza menampilkan pemandangan yang “lebih buruk daripada kamp Nazi” dengan orang-orang yang kelaparan dan kekurangan air di depan mata dunia, Anadolu melaporkan.

“Negara teroris Israel telah melakukan genosida terhadap saudara-saudara kami di Gaza, membantai mereka secara brutal selama 22 bulan di wilayah seluas 360 km⊃2;,” kata Erdogan dalam konferensi pers bersama mitranya dari Kazakhstan, Kassym-Jomart Tokayev, di Ankara.

Entah sampai kapan rakyat Palestina jadi tumbal para pihak yang bertikai di kawasan ini.

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here