MUNGKIN orang paling kecewa di hari raya Idul Adha ini justru pedangdut Dewi Persik. Bagaimana tidak, menjelang Idul Adha dia justru ngomel-ngomel di medsos mengomeli Pak RT, gara-gara mau berkorban ditolak. Walhasil, pada Idul Adha 1444 H ini Dewi Persik malah korban perasaan, karena kecewa pada Pak RT. Tapi Dewi Persik juga aneh sih, mau korban sapi yang jauh-jauh didatangkan dari Brebes, kenapa tidak diserahkan ke panitia kurban mesjid terdekat. Pak RT kan tidak ngurusi hewan kurban.
Kejadian persisnya tak begitu jelas, sebab media online hanya mengeksploitir dari semua omelan dan keluh kesah Dewi Persik, ditambah narasi diduga yang menjadi politik cari aman jurnalis masa kini. Sama sekali tak ada penjelasan dari Pak RT. Bahkan ada salah satu media online menulis bahwa ada penjelasan Pak RT kenapa menolak sapi Dewi Persik. Tapi begitu dibaca itu berita sampai habis, sama sekali tak ada juga penjelasan langsung Pak RT. Wartawannya ngibul, bukan?
Berdasarkan omelan Dewi Persik, Pak RT bilang bahwa warganya sudah tidak butuh daging sapi, sudah banyak! Karenanya sapi itu mohon diambil kembali, jika tidak sapinya akan dilepas. Bila pihak RT diminta memotong dan membagikan, Pak RT minta ongkos Rp 100 juta. Bener nih, Pak RT minta segitu? Jika hanya Rp 10 juta saja, masih bisa diterima akal. Tapi kalau ampai Rp 100 juta, jelas itu menjadi jauh lebih mahal dari sapi limosin sapi kurban Presiden Jokowi.
Gara-gara ada “pungli”-nya sampai Rp 100 juta, pihak Polsek Cilandak terpaksa turun tangan, untuk menyelidiki seperti apa kejadian sebenarnya di RT 04 RW 06 Kelurahan Lebakbulus Jaksel tersebut. Sebab semua itu baru versi pembantu dan sopir yang disuruh Dewi Persik. Memangnya Dewi Persik 24 jam dangdutan terus, sehingga tak ada waktu ketemu sendiri Pak RT. Mungkin juga Pak RT tersinggung, urusan begini Dewi Persik hanya nyuruh pembantu dan sopirnya.
Dewi Persik berkurban tak hanya sekali ini saja, tahun-tahun sebelumnya selalu melakukannya. Tapi kenapa yang kali ini jadi masalah? Kenapa tidak diserahkan ke panitia kurban mesjid terdekat. Di sana pasti akan diatur semuanya dengan rapi. Kenapa malah diserahkan ke Pak RT yang memang bukan urusannya. Jika pelawak Suroto masih hidup, Pak RT pasti akan membantah titah Dewi Persik, “Memangnya saya RT-nya sapi kurban?”
Dari penolakan hewan kurban oleh Pak RT, apakah ini tanda-tanda kiamat sudah dekat? Sebab ada hadits yang mengatakan, tanda-tanda kiamat sudah dekat salah satunya adalah, ketika orang hendak menyumbang saja sudah tidak ada yang mau menerima. Nah, sebelum bertanya pada Dedy Miszwar sutradara dan produser sinetron Kiamat sudah dekat, inilah dalilnya yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA: “Tidak akan tiba hari Kiamat hingga harta menjadi banyak pada kalian, harta itu terus melimpah sehingga membingungkan pemiliknya siapa-kah yang mau menerima shadaqah darinya, lalu seseorang dipanggil kemudian dia berkata, ‘Aku tidak membutuhkannya.”
Tapi di tempat tinggal Dewi Persik, kan yang tidak butuh pemberian daging kurban hanya Pak RT. Warga yang membutuhkan masih banyak, apa lagi tak semua penduduk hidup berkecukupan; masih jauuuuuuh! Tingkat kemiskinan di Indonesia masih bertengger pada angka 26,36 juta orang sampai pada September 2022, atau 9,5 persen dari jumlah penduduk sekitar 270 juta jiwa.
Karenanya masih banyak yang makan daging kambing atau sapi hanya di kala hari raya Idul Adha, yakni menunggu pembagian dari panitia kurban di mesjid-mesjid. Itupun tak selalu kebagian. Ada saja yang sudah terlalu berharap, tapi tidak dapat juga. Kelompok seperti ini tentu saja jadi korban perasaan. Tapi bagi yang terlewatkan harusnya malah berbangga, sebab direken bukan fakir miskin.
Sebaliknya, ada yang sama sekali tak mengharapkan, malah dapat bagian daging kurban, dari yang berujud daging sapi, sampai yang berupa daging kambing. Tapi hati-hati makan daging kambing, terutama bagi pengidap penyakit ludira inggil (darah tinggi) kata orang Yogya-Solo, bisa terkena stroke mendadak. Sudah bukan rahasia lagi, di hari Lebaran Haji banyak orang terkena stroke gara-gara kaulan makan gule atau sate kambing gratisan. (Cantrik Mataram)





