Korea: Menanti Janji Kim Jong Un

PEMIMPIN bangsa atau negara sangat menentukan nasib rakyatnya, akan menjerumuskan ke medan perang berujung kesengsaraan dan kematian atau mengantarkannya menuju perdamaian dan kemakmuran.

Gertakan untuk menghancurkan, hujatan dan ujaran kebencian atas lawan yang dilontarkan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un tiba-tiba berganti dengan janji untuk menghentikan uji joba rudal dan nuklir yang mengancam Korea Selatan, Jepang dan juga AS.

Sebenarnya, “PDKT” menuju proses rujuk pasca Perang Korea (1951- 1953) yang merenggut lima juta nyawa, sudah mulai berjalan sejak Olimpiade Musim Dingin di PyeongChang, Korsel Februari lalu.

Selain menyertakan kontingen olahraga dan tim kesenian, Korut juga mengikutsertakan delegasi tingkat tinggi dipimpin adik perempuan Presiden Jong Un, Kim Yo Jong.

Puas dan tersanjung atas sambutan hangat dan pelayanan penguasa Korsel, Korut membalasnya dengan menerima muhibah delegasi pejabat Korsel dan menyertakan grup penyanyi K-pop Red Velvet yang digandrungi pemimpin tertinggi Korut itu dan juga rakyatnya.

Menyetel video sinetron atau mendengarkan musik-musik dari Korsel, negeri tetangga dan serumpun, sekaligus musuh bebuyutan itu semula tabu bagi Korut sehingga hanya bisa dilakukan sembunyi-sembunyi.

Entah apa yang mendorong munculnya mood positif Jong Un, diluar dugaan AS dan Korsel serta komunitas dunia lainnya, tiba-tiba ia bergerak jauh lebih maju dengan mengeluarkan pernyataan akan menghentikan uji coba rudal balistik dan nuklirnya.

Bergeming dari Seruan Int’l
Semula, di tengah kesulitan ekonomi a.l. akibat embargo internasional dan ancaman bencana kelaparan yang dialami jutaan rakyatnya, Korut menghambur-hamburkan anggaran untuk ujicoba rudal dn nuklir, bergeming terhadap seruan internasional yang mendesak kegiatan itu dihentikan.

“Korut telah mencapai yang diinginkan, sehingga tidak perlu lagi melakukan uji coba persenjataan. Lokasi uji nuklir di Pyunggye-ri akan dibongkar sebagai jaminan tak ada lagi uji coba nuklir, “ kata Jong Un seperti dikutip Kantor Berita Korut, KCNA, Jumat lalu (20/4).Di Pyunggye-ri Korut telah melakukan enam kali uji coba senjata nuklir bawah tanah, yang terbesar dilakukan September lalu.

Presiden AS Donald Trump yang akan bertemu dengan Jong Un akhir Mei atau Juni nanti tentu saja menyambut gembira inisiatif mitra kerjanya itu. “Ini kabar baik, kemajuan luar bisa dan kami menantikan pertemuan nanti, “ ucap Trump di akun twitternya.

Sobat Korut, China melalui kemlunya, juga memuji pernyataan Jong Un karena dinilai bisa mengurangi ketegangan di Semenanjung Korea dan mendorong perlucutan nuklir.

China juga berharap, penghentian uji rudal balistik dan nuklir akan membuat Korut lebih fokus pada pembangunan ekonomi demi meningkatkan standar kesejahteraan rakyatnya.

Sedangkan PM Jepang Shinzo Abe yang negaranya sering diancam oleh Korut berharap agar janji Jong Un bisa diwujudkan dalam tindakan kongkret menuju perlucutan senjata nuklir.

Australia dan Inggeris dengan hati-hati dan waswas mengantisipasi kemungkinan terburuk dan menanti langkah kongkrit atas perubahan drastis sikap Jong Un, sementara Jerman berharap agar Korut membeberkan seluruh program nuklirnya.

Berdasarkan laporan intelijen Korsel, saat ini Korut memiliki 50 Kg plutonium yang bisa digunakan untuk membuat 10 bom nuklir untuk dipasang sebagai hulu ledak rudal balistik Hwasong-15 yang berdaya jangkau 13.000 Km.

Dunia dengan harap-harap cemas menanti keseriusan janji Jong Un yang jika benar-benar dipenuhi, akan membawa perdamaian, tidak saja di kawasan itu tetapi berkontribusi bagi perdamaian dunia.
(AFP/Reuters/NS)

Advertisement