Korut Bergeming, terus Ujicoba Rudal

Walau dikecam internasional dan DK PBB, Korea Utara terus menguji coba rudal balistiknya (RT.com)

TERPILIHNYA tokoh moderat, Moon Jae-in menjadi presiden Korea Selatan tidak menyurutkan Korea Utara meneruskan uji rudal balistik dan program nuklirnya yang dianggap mengancam sejumlah negara termasuk Jepang dan Amerika Serikat.

Media Korsel dan Jepang memberitakan, rudal yang diluncurkan dari lokasi peluncuran di Kusong, Korut, Minggu (14/5) melesat selama 30 menit sejauh 700 Km pada ketinggian 2.000 Km sebelum jatuh di sekitar perairan Korut dan Jepang.

Para pakar memperkirakan, rudal sengaja terbang di ufuk tinggi untuk memperpendek jarak jelajahnya, sedangkan bila diluncurkan di lintasan rendah, kemungkinan daya jangkaunya bisa mencapai 4.000 km.

Tidak diketahui pasti jenis rudal yang baru diluncurkan itu, namun menurut catatan, dalam uji coba rudal Pukguksong atau Bintang Utara yang gagal Februari  lalu, Korut menggunakan rudal berbahan padat yang baru dikembangkannya.

Sementara Kantor Berita Korut KCNA melaporkan (15/5), rudal strategis jarak menengah Hwasong-12 yang mampu mengangkut kepala nuklir berhasil menjangkau jarak 787 Km pada  ketinggian 2.111 Km.

Sedangkan Presiden baru Korsel Moon saat kampanye  lalu berniat mengedepankan upaya dialog melalui kebijakan  “Sunshine”seperti yang sebelumnya ditempuh  oleh Presiden Kim Dae-jung (l998 – 2003) dan diteruskan oleh Presiden  Roh Moo-hyun (2003 – 2008).

Selain dialog, kebijakan Sinar Matahari juga mengedepankan uluran tangan dan investasi ke Korut guna membangun saling percaya antara kedua negara serumpun yang beseteru itu.

Moon menganggap, sikap keras yang dilakukan pemimpin dari kubu konservatif untuk menekan Korut justeru akan membuat negara itu lebih agresif meningkatkan program nuklirnya.

Saat menerima laporan tentang uji coba rudal Korut, Moon langsung menggelar rapat dengan Dewan Keamanan Nasional guna menentukan langkah selanjutnya, namun tidak diketahui, apakah presiden baru itu akan mengubah kebijakannya dan berbalik untuk bersikap keras terhadap Korut.

Ancaman Trump

Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya mengancam akan menyerang Korut jika negara itu tetap melanjutkan uji coba rudal dan program nuklirnya, kali ini agaknya ingin “mengompori” Rusia agar membujuk Korut untuk mematuhi seruan internasional dan resolusi DK PBB.

“Seharusnya Rusia marah pada Korut, karena rudal yang diuji coba jatuh dekat wilayahnya. Sudah waktunya dunia mengenakan sanksi lebih keras pada Korut, “ demikian pernyataan tertulis Gedung Putih.

Trump mengindikasikan akan melakukan opsi menyerang Korut seperti yang dilakukan terhadap NIIS di Afganistan dan Suriah baru-baru ini jika Korut tetap membandel, tidak mengindahkan seruan internasional dan DK PBB untuk menghentikan uji coba rudal dan program nuklirnya.

Sedangkan Jubir Presiden Rusia, Dmitry Peskov mengemukakan, Presiden Vladimir Putin yang sedang melawat ke China telah bertemu dengan pemimpin China Xi Jinping guna membahas perkembangan terakhir isu Semenanjung Korea.

Pemerintah China sendiri walau menilai Korut melanggar resolusi DK PBB, meminta semua pihak berkepentingan di Semenanjung Korea agar menahan diri dan juga agar Korut tidak melakukan aksi profokatif yang bisa memperparah ketegangan.

Mata dunia terus menatap apa yang akan terjadi di Semenanjung Korea.                            (Reuters/AP/AFP/NS)

 

 

 

Advertisement